Tampilkan postingan dengan label Aktivis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aktivis. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 April 2014

Anda. Titik.

Bercerita itu butuh teknik. Setidaknya agar cerita anda enak didengar. Setidaknya pula, agar orang tidak mengira bahwa anda sedang mengigau. Intonasinya harus pas. Tepat, mantap. Gesture tubuhnya harus menarik. Tangannya bergerak-gerak, dan kalau perlu, tubuhnya meliuk-liuk lincah. Sorot matanya tajam, tatapannya berganti-ganti. Raut mukanya harus sesuai. Jangan sampai saat cerita sedih, anda malah nyengar-nyengir sendiri. Aneh jadinya. Kata orang solo, wagu tenan.  Tapi itu semua, susah. Saya akui saya paling tidak bisa bercerita dengan gaya atraktif seperti itu. Saya penah mencobanya. Dan itu gagal. Total. Walaupun saya punya teman dekat juara mendongeng se-surakarta, tapi rasanya itu tak berarti banyak dalam masalah yang satu ini. Haha.
Kata stephen covey, sesuatu yang tidak bisa anda kendalikan, lupakan saja. Nah ini. Dalam beberapa hal , saya tidak terlalu sepakat dengan apa yang dia katakan. Tapi untuk masalah ini, sepertinya dia cukup benar. Saya mulai pusing memikirkan bagaimana saya bisa mengembangkan kemampuan saya dalam bercerita. Saya ingin menjadi pembicara hebat. Tentu kemampuan bercerita yang mumpuni menjadi sangat penting, right?
Selalu ada seribu jalan untuk melamar anak pak lurah! Asal anda tidak menyerah, saya yakin pak lurah bakal bilang “terserah”! hahaha. Saya baru menyadari sebuah fakta yang paling umum diantara kita. Orang cantik itu banyak. Ya kan? Itu fakta pertama. Fakta kedua, dua orang yang sama-sama cantik, dia tidak harus memiliki paras yang benar-benar sama persis. Bahkan berbeda sekali pun tidaklah mengapa. Ibunda aisyah cantik, fatimah putri rosul pun cantik juga. Paras mereka berbeda, tapi mereka sama-sama cantik. Jadi intinya, nggak penting mau ukuran hidung kita semancung apa, warna kulit kita seputih apa, mata kita sebulat apa. Yang penting, cantik. Iya kan? Lihat saja saya. Lihat baik-baik foto dibawah ini. Sudah? Nah sekarang, bandingkan dengan brad pitt. Bagaimana? Walaupun bentuk mata dan dagu berbeda, tapi tetap sama kan? Iya, sama kok. Serius nih? iya, serius. Yak, terimakasih banyak, kawan-kawan. Kejujuran anda memang tak perlu disangsikan lagi.

Dari fakta sederhana itu saya belajar sebuah kaidah: metode seperti apapun, cara penyampaian bagaimanapun, asal anda bisa menunjukkan bahwa yang anda sampaikan itu sesuatu yang besar dan hebat, anda akan dihargai. Titik. Tidak harus sama dengan gaya orang yang sudah kondang. Cukup jadi diri anda, dan tunjukkan bahwa anda pantas menerima hal yang sama.
Saya pernah satu panggung dengan motivator kawakan kampus. Beliau sudah malang melintang untuk urusan mengisi acara-acara kepemimpinan. Tentu karena sudah senior, peralatannya lengkap abis dah. Penampilan macho, cara berjalannya ”sangar”, instrumen penunjang materinya pun lengkap. Ada back soundnya segala. Sedangkan saya –karena waktu itu masih amatiran -, tanpa slide, tanpa back sound, tanpa apa-apa. Modal kertas contekan, kaos polo hitam, topi hitam, plus ditunjang dengan kulit saya yang tidak bisa dibilang putih. Pas, kan? Sempurna! Atas sampek bawah, item semua. Cuman imannya aja yang keliatan bening. Haha. Grogi awalanya. Apalagi beliau menyampaikan materi terlebih dulu. Situasi seperti ini cukup rumit untuk motivator baru seperti saya –waktu itu-. Kalau anda tampil setelah pembicara pertama, dan ternyata anda gagal membuat kesan baik, orang akan memberikan cap “pemateri kedua nya jelek. Mending yang pertama”. Cap itu ditujukan pada anda. Sekali lagi, cap itu dialamatkan kepada anda. Masih lebih mending jika anda yang tampil pertama, lalu gagal, dan pemateri berikutnya tampil cemerlang. Cap yang diberikan bukan untuk anda, tapi untuk keberhasilan pemateri kedua. “pemateri kedua bagus tuh”. Aman, kan? Masih mending tidak diingat, daripada diingat keburukannya. Hehe.
Saya amati dari awal bagaimana cara beliau menyajikan materi. Cukup menarik. Kan senior. Wajar saja lah. Lalu mata saya beralih ke audiens. Menerawang jauh ke arah mereka. Awalnya mereka semangat, namun lama-lama situasinya agak berbeda. Mereka mulai jenuh. Konsentrasi mereka menurun. Peserta putri yang memegang catatan dan bulpoin mulai menaruhnya satu persatu. Tentu ini bukan keadaan yang baik. Sayangnya beliau tidak merubah ritme dan cara penyampaian. Terus saja seperti itu. Menjelang akhir penyampaian,yang tersisa hanyalah beberapa anak, dengan serpihan-serpihan semangat yang masih tertinggal. Yang lainnya? Mereka terlalu sibuk mengurusi mata mereka yang merota-ronta untuk menutup . Apa yang salah? Konten. Itu dia. Beliau terlalu bergantung dengan “perlengkapan pendukung”, sedang koten yang disampaikan, sudah terlalu sering diulang-ulang.
“Kalian tahu apa itu mahasiswa? Maha. Besar. Lebih dari sekedar siswa. Kalian mendapat predikat maha. Hebat, bukan?”
Mungkin kalau kalimat itu disampaikan saat ospek, mereka akan manggut-manggut. Iya, benar. Kami dapet predikat maha. Ini pasti akan seru. Tapi forum ini sudah sangat jauh dari masa-masa ospek. Dan pasti mereka telah sering mendengar kata-kata doktrin seperti itu. Jelas bukan hal menarik lagi bagi mereka. Celakanya, beliau tidak mempertimbangkan hal-hal kecil seperti ini. Jadilah forum itu terasa kurang. Kurang spesial. Mereka ingin yang baru. Itu yang mereka cari, dan harus segera kita berikan –sebagai pemateri-.
Tibalah giliran saya. Belajar dari pengalaman kecil itu, saya membuat kesimpulan sederhana: membuat orang tertarik itu bisa dengan dua hal. Pertama penampilan. Kedua, isi pembicaraan. Jika tak bisa yang pertama, lakukan yang kedua.
Oke, beraksi! Ini panggungmu. Ini bagianmu. jadilah dirimu! Jangan jadi orang lain. Siapapun. bahkan yang terbaik sekalipun. Jangan jadi mereka. Audiens menunggumu tampil untuk berbicara, bukan menunggumu tampil untuk menirukan gaya orang. Yang ditunggu kau, bukan orang lain yang kau selipkan dibelakang dirimu!            
Kepercayaan diri saya meningkat. Seratus koma lima persen. Yah, nol koma lima itu tetaplah keragu-raguan, kawan. Wajar saja lah.  
Saya mulai tanpa salam. Saya minta mereka semua tutup mata. Saya bikin survey dadakan.
“siapa yang pacaran angkat tangan?” lantang saya teriakkan
 “selanjutnya. Yang ngerokok angkat tangan?“
“woi bro, yang buka mata kita doain jadi jomblo abadi. Bilang amiin”
“amiiinn” mereka serempak, lantas terkekeh.
“yang pernah berzina angkat tangan?”
 “yang pengen poligami angkat tangan?”
“yang udah punya rencana mau mati usia berapa dan kayak gimana angkat tangan”
“oke, yang mau melek, melek aja. Yang nggak mau, ya udah terserah elu”
“berdasarkan hasil survey, pria-pria di fakultas ini adalah penggemar berat poligami”
Hahaha. Semua tertawa.
“mau saya tunjukkan siap saja orangnya?” Sebagian anak beringsut
“kalian nih ya. Ngerjain soal ujian aja belum tentu bener, udah mikir poligami. Mau dikasih makan soal ujian tuh bini?” tawa mereka pecah kembali
“Tapi sayangnya, saat sebagian dari kalian berfikir jauh tentang poligami, kalian tidak ada yang memikirkan tentang bagaimana kalian akan mati. Mau mati seperti apa, kalian tak pernah merenungkannya.” Suara saya semakin tegas. Poin terakhir itulah yang saya jadikan awalan sebelum memulai salam. Mikrofon di tangan saya turunkan perlahan, lalu saya tatap mata meraka tajam tajam, sambil memanggut-manggut yakin. Entah karena setuju atau karena mengikuti gerakan saya, yang mereka juga ikut manggut-manggut. Lalu saya contohkan kisah sahabat yang memilih sendiri mau mati dengan cara apa. Lagi-lagi mereka mengangguk setuju. Oke, tugas pertama dan paling penting telah selesai: membuat mereka terpesona pada pandangan pertama. Entahlah, kata cermin yang setiap hari saya temui, saya memang mempesona. Kata dia sih, begitu. Entahlah.
Ah, inilah kelemahan saya. Entah berbicara, entah menulis, bahasan saya sering melebar. Jadi lupa kan, tadi kita mau bahas apa? Yak, itu dia. Bercerita. Intinya, saya tidak bisa menyajikan cerita dengan cara yang cetar membahana. Dan saya terlalu meributkan hal itu. Sampai akhirnya saya menyadari kaidah lain yang sama sederhananya: anda lebih mempesona dengan karakter kuat yang anda miliki, daripada anda harus menjejalkan karakter orang lain agar anda terlihat hebat. Saya tidak bisa bercerita dengan penuh kehebohan. Gerakan saya mungkin biasa biasa saja. Tidak bisa melenggak lenggok layaknya pemeran teater. Fine, tapi sepertinya saya bisa bercerita dengan diksi yang menarik, pilihan kata yang tepat, dan semangat yang berapi-api. Itulah karakter saya. Dan saya akan hidup dengan itu, besar dengan itu, membuat orang terpesona juga dengan itu. Kata orang, saya terlalu keras. Tapi bagi saya, itulah gunanya saya terlahir. Untuk melindungi orang-orang lemah dengan kerasnya karakter yang saya punya. Hahaha. Intinya saya bangga dengan karakter saya.
Jadi iti pembicaraan kita kali ini, jangan pernah menyamakan diri anda dengan orang lain. Eit, tapi bukan berarti anda tidak boleh meniru orang lain. Anda salah besar jika berfikir bahwa saya melarang itu. Hobi saya dari dulu adalah, mengamati orang berbicara. Mulutnya, gerak bibirnya, sorot matanya, gesture tubuhnya, bahkan sampai cara dia menundukkan kepalanya. Lihatlah  mata najwa edisi habibie hari ini. Lihatlah cara najwa shihab menghormati habibie. Dia tundukkan kepalanya untuk menunjukkan rasa hormatnya yang paling dalam. Hei, bukankah menundukkan kepala sedikit lebih rendah itu pekerjaan gampang? Ternyata tidak. Tanyakan saja pada anda, pernahkah anda sengaja melakukannya untuk menghormati lawan bicara anda? Itulah gunanya belajar. Kita tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Mengamati pembicara yang baik, kita jadi tahu apa saja yang harus kita lakukan. Mengamati pembicara yang kacau, kita jadi mengerti apa saja yagn harus kita hindari. Sepakat?
Meniru boleh, namun jangan pernah menyamakan. Apalagi membandingkan. Diri anda terlalu istimewa untuk dibandingkan dengan orang lain. Siapapun dia. Bahkan yang terbaik sekalipun. Anda selalu punya sisi istimewa yang tidak dimiliki siapa saja. Itu punya anda. Ya, hanya anda yang mempunyainya. Maka, jadilah diri anda, tanpa pernah malu untuk mengatakan “inilah saya”.

    

Rabu, 01 Januari 2014

Menuju Kampus FK UNS Tanpa Rokok

Rokok, benda  yang tak asing di masyarakat Indonesia. Rokok seakan telah menjadi unsur budaya yang tak terpisahkan dalam tatanan masyarakat. Lingkaran industri rokok juga telah menjadi salah satu penyumbang pajak terbesar dan si empu perusahaan menjadi jajaran orang terkaya di Indonesia.
Akan tetapi dibalik hegemoni fenomena rokok di masyarakat, rokok merupakan racun yang dapat membunuh siapa saja. Kita semua tahu bahwa rokok mengandung berbagai zat yang sangat berbahaya bagi tubuh. Bahkan, bungkus rokok pun telah mencantumkan risiko mengonsumsi rokok.
Semua orang berhak merokok. Sementara yang lain juga berhak mendapatkan udara yang baik dan sehat (UUD 1945 Pasal 28H). Sehingga untuk menjembatani kedua hak tersebut, pemangku kebijakan di negeri ini telah mengeluarkan produk hukum yang saat ini dianggap paling adil. Rokok adalah barang yang halal. Tetapi pengonsumsiannya diharamkan bagi anak-anak dan wanita hamil (Fatwa MUI). Rokok juga merupakan barang yang sah dan legal. Tetapi penggunaannya dilarang di tempat belajar mengajar (PP No 109/2012 Bab V, Perwali Surakarta No 13/2010 Bab II Pasal 2).
Sungguh sebuah ironi jika masih terlihat aktivitas yang berkenaan dengan rokok di dalam sebuah kampus. Terlebih lagi jika kampus tersebut menyandang sebagai predikat kampus kesehatan / kedokteran.  Berdasarkan hal tersebut, kami Kementerian Advokasi BEM FK UNS mencoba untuk mewujudkan kampus FK tanpa rokok.
Perjalanan panjang ini kami mulai dari tahap pengumpulan data tentang kampus tanpa rokok. Berdasarkan hasil survey kami yang telah dilakukan secara on line pada pertengahan tahun 2012, 96,4 % mahasiswa FK UNS berkeinginan memiliki kampus tanpa rokok. Data yang masih mentah ini langsung kami ajukan ke Pimpinan Fakultas pada acara Audiensi BEM di tanggal 28 September 2012. Hasil dari audiensi ini berupa Surat Kesepakatan Dekan dan Mahasiswa  yang salah satu poinnya bersisi janji dekanat untuk berupaya secara aktif mewujudkan kampus FK tanpa rokok.
Pada tanggal 19 Maret 2013, BEM melakukan follow up audiensi ke PD 1 FK UNS. Hasil yang kami dapat berupa usulan mengenai kampus tanpa rokok belum bisa diterima oleh Senat Universitas. Oleh karena itu PD 1 meminta BEM untuk mengkaji masalah kampus tanpa rokok disertai bukti pendesakan dari mahasiswa agar Rektor bersedia mengeluarkan produk hukum yang memayungi kampus FK tanpa rokok.
Kajian resmi tentang kampus tanpa rokok pun kami mulai. Selama kurang lebih sebulan kami mengkaji kampus FK tanpa rokok. Kajian kamipun menelurkan sebuah pernyataan permintaan kampus tanpa rokok yang dilengkapi berbagai data penunjang dan penguat.
Untuk lebih meyakinkan Rektor bahwa hampir semua mahasiswa menginginkan kampus FK tanpa rokok, bertepatan pada Hari Tanpa Tembakau Sedunia (31 Mei 2013) kami melakukan sebuah aksi. Aksi tersebut berupa penandatangan petisi dukungan terhadap kampus FK tanpa rokok. Tidak kurang dari 800 tanda tangan yang terdiri dari tanda tangan pimpinan fakultas, dosen, karyawan, dan mahasiswa berhasil kami kumpulkan. Untuk lebih memperkuat petisi kami, kami juga meminta  tanda tangan dukungan ke Wali Kota beserta Muspida Kota Surakarta di acara peringatan HTTS yang diadakan oleh Pemkot Surakarta.
Kajian beserta salinan seluruh petisi kami edarkan ke Pimpinan Universitas, Senat Universitas, Dekan se UNS, dan Kaprodi se FK UNS. Harapan kami adalah petinggi kampus dapat mendengar aspirasi kami mewujudkan kampus FK tanpa rokok.
Hasil dari gerilya kami ini adalah undangan Rektor dan PR 3 untuk membicarakan mengenai kampus FK tanpa rokok. Pimpinan Universitas sangat mendukung usulan kami. Rektor meminta kami untuk berkoordinasi dengan tim PPLH UNS agar usulan kami menjadi bagian dari program green campus UNS yang berada di bawah naungan Kementerian Lingkungan Hidup.
Kami bergerak cepat dengan langsung menjalin koordinasi dengan Ketua Tim PPLH. Beliau sangat mendukung usulan kami. Beliau memasukkan kampus FK tanpa rokok sebagai bagian dari green campus UNS dan berjanji akan melakukan sosialisasi tentang green campus ke civitas akademika FK UNS. Sosialiasi dilakukan pada tanggal 26 September 2013. Hasil dari sosialisasi ini berupa iktikad Pimpinanan Fakultas untuk membuat payung hukum sendiri mengenai kampus FK tanpa rokok dalm bentuk SK Dekan.
Selain itu Ketua tim PPLH juga akan memfasilitasi kami untuk bertemu dengan Menteri Lingkungan Hidup RI di acara kunjungan beliau ke UNS di pertengahan bulan November. Kami diharapkan bisa meminta dukungan Menteri untuk mewujudkan kampus FK tanpa rokok. Namun sampai akhir bulan November, rencana kedatangan Menteri belum juga terealisasikan.
Berita kepastian kedatangan Menteri baru kami dapat di minggu kedua bulan Desember. Menteri terjadwal untuk mengisi acara di UNS pada tanggal 17 Desember bersama dengan rombongan PPLH dari Undip, UKSW, UB, Untan, Unlam, Undana, Unram, Uncen, Unhas, Unpatti, Unsri, dan Unri. Dengan sisa waktu kurang dari seminggu kami mendesak  Dekan FK UNS untuk  segera menerbitkan SK Dekan tentang Kawasan Tanpa Rokok.  Kami juga mengonsep sebuah acara demo seremonial untuk meminta tanda tangan Menteri sebagai bukti dukungannya.
Alhamdulillah, di sela-sela Ujian Blok Psikiatri kami bersama Kasubbag Kemahasiswaan FK UNS berhasil meyakinkan Dekan untuk menandatanani SK Dekan sesuai draft kami. Tepat di hari Jumat tanggal 13 Desember 2013 diterbitkanlah Keputusan Dekan  FK UNS Nomor 7827/UN27.06/TU/2013 tentang Kawasan Tanpa Rokok yang menetapkan 3 kampus FK UNS sebagai Kampus Tanpa Rokok.  Masih teringat jelas saat Dekan FK UNS akan membubuhkan tanda tangannya. Beliau berucap bismillahirrahmanirrahim. Amar ma’ruf nahi munkar. Teruskan perjuanganmu.
Di hari Senin tanggal 16 Desember 2013, segala persiapan aksi untuk esok hari sudah siap. Spanduk SK Dekan untuk dimintakan tanda tangan dukungan dari Menteri LH, kain putih petisi Kampus UNS Tanpa Rokok, kertas dukungan Kampus FK Tanpa Rokok yang akan ditanda tangani Menteri LH dan Rektor UNS, pamflet, megaphone, pita merah, spidol, bendera Indonesia, dan bendera BEM sudah siap.  Kami juga telah berkoordinasi dengan pihak Kementerian LH, Rektor, dan Tim PPLH UNS. Kami siap mengadakan aksi damai dengan orasi dari Presiden BEM FK UNS.
Bagai petir di siang bolong, tepat pukul 19.00 Ketua Tim PPLH memberi tahu kami kalau Menteri LH batal berkunjung ke UNS dikarenakan ada perintah lain dari Presiden. Sontak saya lemas. Muncul perasaan kecewa dan rasa malas untuk beraksi esok hari. Pres BEM menyemangati saya dan meyakinkan saya kalau lembar tanda tangan Menteri akan diisi oleh Sekertaris Menteri. Show must go on.
Selasa pagi pukul 8.30 saya datang ke Rektorat UNS. Tidak banyak yg mau ikut aksi kali ini. Hanya sekitar belasan yang pergi ke rektorat.  Setelah sarapan bersama di ruang transit Rektorat dan berkoordinasi dengan Keamanan UNS, Umkap UNS, Humas UNS, dan Polres Surakarta kami mempersiapakan teknis aksi kali ini. Melihat junior dan teman-teman yang tetap bersemangat membuat semangat juang saya kembali. Saya langsung mengambil alhi komando persiapan  aksi. Saya yang mengawali perjuangan ini, maka saya pulalah yang harus menuntaskannya. Setelah memasang pita merah di jari telunjuk dan tengah (tanda tidak merokok) kami bersiap di posisi masing-masing.


Hal yang ditunggu pun datang. Rombongan Menteri LH yang diwakilkan oleh sekertarisnya beserta Rektor UNS menuju ke arah kami. Dibantu oleh MC, saya mengarahkan Sesmen untuk memberikan paraf di spanduk kami.




Ini bukan merupakan akhir perjuangan. Ini adalah awal perjuangan yang lebih berat untuk mengawal Kampus FK Tanpa Rokok. Teruslah penuhi panggilan hati untuk mewujudkan FK yang madani dan harmonis. Karena cara terbaik untuk menolong diri sendiri adalah dengan menolong orang lain.