Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Oktober 2014

Cita-citaku Masih Sama, Menjadi Seorang Guru

Semua memori dan impian-impian itu masih ada, masih belum terkubur, dan bahkan semakin mencuat. Masih teringet jelas pelajaran Bahasa Indonesia ketika aku duduk di kelas 2 Sekolah Dasar

       “Ayo anak-anak tulis nama kalian dan cita-cita kalian, kemudian tuliskan juga alasannya kenapa”, intruksi Ibu Poedji ketika mengajar kala itu.
      Mungkin karena ayahku yang seorang guru atau memang jiwa guru sudah ada dalam diriku, meskipun kawan-kawanku kala itu menulis berbagai macam profesi seperti polisi, dokter, tentara, insinyur, dan aku kala itu menulis profesi guru.
         Semua masih belum berubah, bahkan sampai semester 6 ketika duduk dibangku SMA aku masih menulis guru sebagai impianku. Di papan absensi kelas hampir semua kawan-kawanku menulis UNAIR, UB, ITS, UGM, UNS, UI dan berbagai universitas lain sebagai tujuan kuliah selanjutnya, dan aku masih belum merubah impianku karena aku menulis UNESA di papan itu. Padahal, guruku SMA kala itu bahkan banyak yang menyarankan jadi dokter daripada aku menjadi guru. Dan banyak pula kawan-kawanku yang menganggap guru adalah pilihan terakhir mereka. Namun bagiku tak ada hal yang menyenangkan selain bisa berbicara didepan para murid dan kita begitu diperhatikan, itu saja yang aku inginkan, tak lebih. Dan kita tahu juga baha ilmu yang diajarkan akan selalu menjadi amal jariyah meski raga kita telah terpendam didalam tanah. Mungkin itu motivasi besarku untuk menjadi guru hingga saat ini.
         Namun semua berubah ketika aku hampir memilih Pendidikan Biologi sebagai tujuan kuliahku selanjutnya, namun ayah ingin sekali putra semata wayangnya jadi seorang dokter. “Sama-sama pelajaran biologi mbok dicoba pilihan pertama kedokteran dulu Masa iya Cuma anak dokter yang bisa jadi dokter, anaknya guru juga harus bisa jadi dokter”,nasihat ayah ketika aku mau memilih jurusan.
            Masih teringat pula ketika SNMPTN undangan aku memilih FK UI sebagai pilihan pertama dan FK UGM sebagai pilihan selanjutnya, dan sejak saat itu entah mengapa menjadi terlalu obsesif untuk masuk menjadi mahasiswa kedokteran yang bahkan tak pernah kubayangkan akan jadi seorang dokter. Tapi takdir memang sudah menjadikanku mahasisa kedokteran, di UNS. Sempat merasa kayaknya nyasar banget masuk disini, tapi lama-kelamaan aku bangga dan merasa bahwa memang disinilah tempat terbaikku.
            Meski sebentar lagi akan menerima gelar Sarjana Kedokteran tapi cita-citaku untuk menjadi guru masih belum padam. Setidaknya kini cita-citaku bisa sedikit upgrade yakni menjadi dosen. Yak dosen, akan senantiasa aku perjuangkan.
            Guru bisa mendidik seseorang menjadi seorang dokter, polisi, tentara, teknokrat, pengacara, hakim, dan berbagai profesi lain. Namun tak berlaku sebaliknya karena profesi-proesi tersebut tak bisa mendidik seseorang menjadi seorang guru. Betapa mulianya guru-guru kita di masa yang silam?

Jumat, 18 April 2014

Anda. Titik.

Bercerita itu butuh teknik. Setidaknya agar cerita anda enak didengar. Setidaknya pula, agar orang tidak mengira bahwa anda sedang mengigau. Intonasinya harus pas. Tepat, mantap. Gesture tubuhnya harus menarik. Tangannya bergerak-gerak, dan kalau perlu, tubuhnya meliuk-liuk lincah. Sorot matanya tajam, tatapannya berganti-ganti. Raut mukanya harus sesuai. Jangan sampai saat cerita sedih, anda malah nyengar-nyengir sendiri. Aneh jadinya. Kata orang solo, wagu tenan.  Tapi itu semua, susah. Saya akui saya paling tidak bisa bercerita dengan gaya atraktif seperti itu. Saya penah mencobanya. Dan itu gagal. Total. Walaupun saya punya teman dekat juara mendongeng se-surakarta, tapi rasanya itu tak berarti banyak dalam masalah yang satu ini. Haha.
Kata stephen covey, sesuatu yang tidak bisa anda kendalikan, lupakan saja. Nah ini. Dalam beberapa hal , saya tidak terlalu sepakat dengan apa yang dia katakan. Tapi untuk masalah ini, sepertinya dia cukup benar. Saya mulai pusing memikirkan bagaimana saya bisa mengembangkan kemampuan saya dalam bercerita. Saya ingin menjadi pembicara hebat. Tentu kemampuan bercerita yang mumpuni menjadi sangat penting, right?
Selalu ada seribu jalan untuk melamar anak pak lurah! Asal anda tidak menyerah, saya yakin pak lurah bakal bilang “terserah”! hahaha. Saya baru menyadari sebuah fakta yang paling umum diantara kita. Orang cantik itu banyak. Ya kan? Itu fakta pertama. Fakta kedua, dua orang yang sama-sama cantik, dia tidak harus memiliki paras yang benar-benar sama persis. Bahkan berbeda sekali pun tidaklah mengapa. Ibunda aisyah cantik, fatimah putri rosul pun cantik juga. Paras mereka berbeda, tapi mereka sama-sama cantik. Jadi intinya, nggak penting mau ukuran hidung kita semancung apa, warna kulit kita seputih apa, mata kita sebulat apa. Yang penting, cantik. Iya kan? Lihat saja saya. Lihat baik-baik foto dibawah ini. Sudah? Nah sekarang, bandingkan dengan brad pitt. Bagaimana? Walaupun bentuk mata dan dagu berbeda, tapi tetap sama kan? Iya, sama kok. Serius nih? iya, serius. Yak, terimakasih banyak, kawan-kawan. Kejujuran anda memang tak perlu disangsikan lagi.

Dari fakta sederhana itu saya belajar sebuah kaidah: metode seperti apapun, cara penyampaian bagaimanapun, asal anda bisa menunjukkan bahwa yang anda sampaikan itu sesuatu yang besar dan hebat, anda akan dihargai. Titik. Tidak harus sama dengan gaya orang yang sudah kondang. Cukup jadi diri anda, dan tunjukkan bahwa anda pantas menerima hal yang sama.
Saya pernah satu panggung dengan motivator kawakan kampus. Beliau sudah malang melintang untuk urusan mengisi acara-acara kepemimpinan. Tentu karena sudah senior, peralatannya lengkap abis dah. Penampilan macho, cara berjalannya ”sangar”, instrumen penunjang materinya pun lengkap. Ada back soundnya segala. Sedangkan saya –karena waktu itu masih amatiran -, tanpa slide, tanpa back sound, tanpa apa-apa. Modal kertas contekan, kaos polo hitam, topi hitam, plus ditunjang dengan kulit saya yang tidak bisa dibilang putih. Pas, kan? Sempurna! Atas sampek bawah, item semua. Cuman imannya aja yang keliatan bening. Haha. Grogi awalanya. Apalagi beliau menyampaikan materi terlebih dulu. Situasi seperti ini cukup rumit untuk motivator baru seperti saya –waktu itu-. Kalau anda tampil setelah pembicara pertama, dan ternyata anda gagal membuat kesan baik, orang akan memberikan cap “pemateri kedua nya jelek. Mending yang pertama”. Cap itu ditujukan pada anda. Sekali lagi, cap itu dialamatkan kepada anda. Masih lebih mending jika anda yang tampil pertama, lalu gagal, dan pemateri berikutnya tampil cemerlang. Cap yang diberikan bukan untuk anda, tapi untuk keberhasilan pemateri kedua. “pemateri kedua bagus tuh”. Aman, kan? Masih mending tidak diingat, daripada diingat keburukannya. Hehe.
Saya amati dari awal bagaimana cara beliau menyajikan materi. Cukup menarik. Kan senior. Wajar saja lah. Lalu mata saya beralih ke audiens. Menerawang jauh ke arah mereka. Awalnya mereka semangat, namun lama-lama situasinya agak berbeda. Mereka mulai jenuh. Konsentrasi mereka menurun. Peserta putri yang memegang catatan dan bulpoin mulai menaruhnya satu persatu. Tentu ini bukan keadaan yang baik. Sayangnya beliau tidak merubah ritme dan cara penyampaian. Terus saja seperti itu. Menjelang akhir penyampaian,yang tersisa hanyalah beberapa anak, dengan serpihan-serpihan semangat yang masih tertinggal. Yang lainnya? Mereka terlalu sibuk mengurusi mata mereka yang merota-ronta untuk menutup . Apa yang salah? Konten. Itu dia. Beliau terlalu bergantung dengan “perlengkapan pendukung”, sedang koten yang disampaikan, sudah terlalu sering diulang-ulang.
“Kalian tahu apa itu mahasiswa? Maha. Besar. Lebih dari sekedar siswa. Kalian mendapat predikat maha. Hebat, bukan?”
Mungkin kalau kalimat itu disampaikan saat ospek, mereka akan manggut-manggut. Iya, benar. Kami dapet predikat maha. Ini pasti akan seru. Tapi forum ini sudah sangat jauh dari masa-masa ospek. Dan pasti mereka telah sering mendengar kata-kata doktrin seperti itu. Jelas bukan hal menarik lagi bagi mereka. Celakanya, beliau tidak mempertimbangkan hal-hal kecil seperti ini. Jadilah forum itu terasa kurang. Kurang spesial. Mereka ingin yang baru. Itu yang mereka cari, dan harus segera kita berikan –sebagai pemateri-.
Tibalah giliran saya. Belajar dari pengalaman kecil itu, saya membuat kesimpulan sederhana: membuat orang tertarik itu bisa dengan dua hal. Pertama penampilan. Kedua, isi pembicaraan. Jika tak bisa yang pertama, lakukan yang kedua.
Oke, beraksi! Ini panggungmu. Ini bagianmu. jadilah dirimu! Jangan jadi orang lain. Siapapun. bahkan yang terbaik sekalipun. Jangan jadi mereka. Audiens menunggumu tampil untuk berbicara, bukan menunggumu tampil untuk menirukan gaya orang. Yang ditunggu kau, bukan orang lain yang kau selipkan dibelakang dirimu!            
Kepercayaan diri saya meningkat. Seratus koma lima persen. Yah, nol koma lima itu tetaplah keragu-raguan, kawan. Wajar saja lah.  
Saya mulai tanpa salam. Saya minta mereka semua tutup mata. Saya bikin survey dadakan.
“siapa yang pacaran angkat tangan?” lantang saya teriakkan
 “selanjutnya. Yang ngerokok angkat tangan?“
“woi bro, yang buka mata kita doain jadi jomblo abadi. Bilang amiin”
“amiiinn” mereka serempak, lantas terkekeh.
“yang pernah berzina angkat tangan?”
 “yang pengen poligami angkat tangan?”
“yang udah punya rencana mau mati usia berapa dan kayak gimana angkat tangan”
“oke, yang mau melek, melek aja. Yang nggak mau, ya udah terserah elu”
“berdasarkan hasil survey, pria-pria di fakultas ini adalah penggemar berat poligami”
Hahaha. Semua tertawa.
“mau saya tunjukkan siap saja orangnya?” Sebagian anak beringsut
“kalian nih ya. Ngerjain soal ujian aja belum tentu bener, udah mikir poligami. Mau dikasih makan soal ujian tuh bini?” tawa mereka pecah kembali
“Tapi sayangnya, saat sebagian dari kalian berfikir jauh tentang poligami, kalian tidak ada yang memikirkan tentang bagaimana kalian akan mati. Mau mati seperti apa, kalian tak pernah merenungkannya.” Suara saya semakin tegas. Poin terakhir itulah yang saya jadikan awalan sebelum memulai salam. Mikrofon di tangan saya turunkan perlahan, lalu saya tatap mata meraka tajam tajam, sambil memanggut-manggut yakin. Entah karena setuju atau karena mengikuti gerakan saya, yang mereka juga ikut manggut-manggut. Lalu saya contohkan kisah sahabat yang memilih sendiri mau mati dengan cara apa. Lagi-lagi mereka mengangguk setuju. Oke, tugas pertama dan paling penting telah selesai: membuat mereka terpesona pada pandangan pertama. Entahlah, kata cermin yang setiap hari saya temui, saya memang mempesona. Kata dia sih, begitu. Entahlah.
Ah, inilah kelemahan saya. Entah berbicara, entah menulis, bahasan saya sering melebar. Jadi lupa kan, tadi kita mau bahas apa? Yak, itu dia. Bercerita. Intinya, saya tidak bisa menyajikan cerita dengan cara yang cetar membahana. Dan saya terlalu meributkan hal itu. Sampai akhirnya saya menyadari kaidah lain yang sama sederhananya: anda lebih mempesona dengan karakter kuat yang anda miliki, daripada anda harus menjejalkan karakter orang lain agar anda terlihat hebat. Saya tidak bisa bercerita dengan penuh kehebohan. Gerakan saya mungkin biasa biasa saja. Tidak bisa melenggak lenggok layaknya pemeran teater. Fine, tapi sepertinya saya bisa bercerita dengan diksi yang menarik, pilihan kata yang tepat, dan semangat yang berapi-api. Itulah karakter saya. Dan saya akan hidup dengan itu, besar dengan itu, membuat orang terpesona juga dengan itu. Kata orang, saya terlalu keras. Tapi bagi saya, itulah gunanya saya terlahir. Untuk melindungi orang-orang lemah dengan kerasnya karakter yang saya punya. Hahaha. Intinya saya bangga dengan karakter saya.
Jadi iti pembicaraan kita kali ini, jangan pernah menyamakan diri anda dengan orang lain. Eit, tapi bukan berarti anda tidak boleh meniru orang lain. Anda salah besar jika berfikir bahwa saya melarang itu. Hobi saya dari dulu adalah, mengamati orang berbicara. Mulutnya, gerak bibirnya, sorot matanya, gesture tubuhnya, bahkan sampai cara dia menundukkan kepalanya. Lihatlah  mata najwa edisi habibie hari ini. Lihatlah cara najwa shihab menghormati habibie. Dia tundukkan kepalanya untuk menunjukkan rasa hormatnya yang paling dalam. Hei, bukankah menundukkan kepala sedikit lebih rendah itu pekerjaan gampang? Ternyata tidak. Tanyakan saja pada anda, pernahkah anda sengaja melakukannya untuk menghormati lawan bicara anda? Itulah gunanya belajar. Kita tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Mengamati pembicara yang baik, kita jadi tahu apa saja yang harus kita lakukan. Mengamati pembicara yang kacau, kita jadi mengerti apa saja yagn harus kita hindari. Sepakat?
Meniru boleh, namun jangan pernah menyamakan. Apalagi membandingkan. Diri anda terlalu istimewa untuk dibandingkan dengan orang lain. Siapapun dia. Bahkan yang terbaik sekalipun. Anda selalu punya sisi istimewa yang tidak dimiliki siapa saja. Itu punya anda. Ya, hanya anda yang mempunyainya. Maka, jadilah diri anda, tanpa pernah malu untuk mengatakan “inilah saya”.

    

Kamis, 26 Desember 2013

Merangkai Kata Bahagia


Setengah 6 pagi. Saat tiba-tiba saya terjaga karena berisiknya teriakan seorang kawan. Masih sangat lelah saya rasakan. Semalaman saya melembur pekerjaan yang baru ditugaskan untuk periode setahun kedepan. Namun bagi saya, secapek apapun, harus ada tempat untuk seorang kawan. Karena ketika kita memberikan tempat untuk mereka, artinya kita memberi tempat untuk kebahagiaan.

Setengah sadar saya beranjak dari mushola. Tempat ini memang paling nyaman untuk tidur selepas subuh. Bagaimana dengan hotel berbintang 5? Saya fikir tak lebih nikmat daripada tidur di mushola. Di satu sisi, itu yang saya yakini. Di sisi lain, saya memang belum pernah tidur di hotel berbintang 5. Haha.

Agenda pagi itu adalah main bola. Hampir dua kali seminggu saya main bola. Pertama karena hobi, kedua karena berdasarkan ilmu yang saya pelajari, olahraga itu meningkatkan hormon endorphin, hormon kebahagiaan. Lihat saja yang tidak pernah olahraga, wajah nya pasti tak secerah pecinta olahraga.

Seperti biasa, pekerjaan memeras keringat selalu menghabiskan banyak waktu. Satu setengah jam sudah cukup membuat kami kehabisan nafas. Selesai satu pekerjaan, maksimalkan pekerjaan berikutnya. Begitu kata Allah dalam kitabNya. Maka selepas di lapangan, pertandingan kami lanjutkan ke warung makan. Dan ini tak kalah seru. Karena yang pertama, kami pasti akan mengobral tawa. Kedua, kami akan menjadi guru yang baik bagi si empunya warung. Dan materi yang kami ajarkan adalah tentang kesabaran. “mas, teh anget 1, air putih 1”. Mas-mas yang ramah ini pasti bilang “oke mas”. Tak lupa dia tersenyum, semanis mungkin. Satu jam kemudian, masih dengan senyuman, mas-mas ini pasti bilang “sudah mas?”. Namun bedanya, senyuman kedua ini tidak dicampur gula.

Tak jelas siapa yang memulai, tema pembicaraan kami pagi itu adalah kebahagiaan. Dimulai dari mensyukuri keberadaan kami di pondok, bercerita tentang kekonyolan-kekonyolan yang kami lakukan bersama, dan tentunya, rasa kasihan kami kepada saudara-saudara kami yang tidak pernah merasakan keadaan ‘senikmat’ kami. Kami memang tidak punya banyak mobil untuk dipakai bergantian ke kampus tiap hari, bahkan ada sahabat kami yang tak punya kendaraan lain kecuali kedua kakinya. Ada pula yang harus naik angkot ke kampus karena jarak memang cukup jauh. Kami memang tak punya gadget mahal dengan Operating System yang selalu baru.

Untuk saat ini, kami memang tak punya itu semua. Tapi kami tahu bagaimana cara membuat teman kami tersenyum. Kami tahu apa yang harus kami lakukan saat sahabat kami bersedih. Pun kami tahu bagaimana cara tersenyum saat kami sedang bersedih. Kami tahu apa itu bahagia. Kami tahu bagaimana mendapatkannya, dan bagaimana memberikannya pada sahabat-sahabat kami.
Sampai akhirnya, kami sampai pada sebuah kesimpulan.

Kebahagiaan, adalah kebutuhan dasar yang harus dipenuhi untuk mempertahankan kebutuhan lain. Kita punya banyak sekali kebutuhan yang harus dipenuhi. Kebutuhan akan pujian, kasih sayang, harta, kekayaan, dan kebutuhan duniawi lainnya. Semua harus terpenuhi. Dan sesuai fitrah manusia, setelah terpenuhi, mereka akan menambah. Setelah bertambah, mereka akan menumpuk. Begitu seterusnya. Kadar kepuasan mereka akan bertambah seiring dengan banyaknya harta yang berhasil mereka kumpulkan.

Namun ketika semua ruang untuk kebutuhan dunia dalam dirinya telah terpenuhi, dan mereka tersadar bahwa ruang kebahagiaan itu ternyata masih kosong, mereka hanya akan mencari cara bagaimana menukar semua yang dia miliki untuk mengisi ruang kosong dalam kehidupannya.     
Kebahagiaan adalah nilai tukar yang harus ada untuk menikmati kebutuhan lain yang telah terpenuhi. Dalam hal harta misalnya. Saat uang kita banyak, hanya kebahagiaan yang bisa membuat kita mengerti bahwa uang banyak itu adalah nikmat. Pun sebaliknya, hanya kebahagiaan yang bisa membuat kita menyadari bahwa uang sedikit itu bukanlah kiamat.

Suatu saat ketika kami juga punya ‘dunia’ semewah itu, kami tak perlu lagi mencari cara untuk mendapatkan kebahagiaan. Karena saat ini, kami tahu bagaimana caranya.





Kamis, 14 November 2013

Kriteria Seorang Pemimpin Yang Layak Dipilih

      Pemilu maupun musyawarah untuk menentukan pemimpin bukanlah lagi hal yang jarang kita temui di era demokrasi seperti sekarang ini, termasuk kemarin ketika kita harus menetukan pilihan untuk Presiden BEM UNS, kemudian Presiden BEM FK UNS, dan tentunya Presiden RI april tahun depan. Terlepas dari masalah kepresidenan nampaknya pemilihan ketua organisasi mahasiswa juga akan santer isunya di beberapa hari kedepan di Fakultas Kedokteran UNS tercinta ini. Masyarakat maupun mahasiswa luas diberikan kesempatan untuk menilai siapa diantara mereka yang paling wajar dipilih. Al-Quran memberi petunjuk dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam upaya menjawab “Siapakah yang layak kita pilih?”


     Dari celah-celah ayat Al-Quran ditemukan paling sedikit dua sifat pokok yang harus disandang oleh seorang yang memikul suatu jabatan yang berkaitan dengan hak-hak masyarakat. Kedua hal itu hendaknya diperhatikan dalam menentukan pilihan.
      “Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja, ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”, demikian ucapan putri Nabi Syu’aib yang dibenarkan dan diabadikan dalam Al-Quran surah Al-Qashash ayat 26.
      Konsideran pengangkatan Yusuf sebagai Kepala Badan Logistik Kerajaan Mesir yang disampaikan oleh rajanya dan diabadikan pula oleh Al-Quran adalah: “Sesungguhnya kamu mulai hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami” (Yusuf:54)
      Ketika Abu Bakar r.a. menunjuk Zaid bin Tsabit sebagai Ketua Panitia Pengumpulan Mushaf alasannya pun tidak jauh berbeda: “Engkau seorang pemuda (kuat lagi bersemangat) dan telah dipercaya oleh Rasul menulis wahyu”. Bahkan Allah SWT memilih Jibril sebagai pembawa wahyunya, antara lain, karena malaikat ini memiliki sifat kuat lagi terpercaya. “Sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, yang ditaati disana (di alam malaikat) lagi dipercaya”. (At-Takwir:19-21)
      Salah satu arti amanat menurut Rasulullah adalah kemampuan atau keahlian dalam jabatan yang akan dipangku: “Amanat terabaikan dan kehancuran akan tiba, bila jabatan diserahkan pada yang tidak mampu”, demikian lebih kurang sabda Nabi. Sahabat Abu Dzar, pernah dinasihati oleh Nabi SAW: “Wahai Abu Dzar, aku melihat engkau lemah. Aku suka untukmu apa aku suka untuk diriku. Karena itu, jangan memimpin (walau) dua orang dan jangan pula menjadi wali bagi harta anak yatim”.
      “Apabila amanat diabaikan, maka nantikanlah kiamat (kehancuran). Mengabaikannya adalah menyerahkan tanggung jawab kepada seseorang yang tidak wajar memikulnya”, demikian salah satu jabaran arti amanat.
      Tidak mudah terhimpun dalam diri seseorang kedua sifat tersebut secara sempurna, tetapi kalaupun harus memilih, maka pilihlah yang paling sedikit kekurangannya, dan lakukan pilihan setelah upaya bersungguh-sungguh untuk mendapatkan yang terbaik. Ketika Imam Ahmad bin Hanbal ditanya tentang dua orang yang dicalonkan untuk memimpin satu pasukan –yang pertama kuat tapi bergelimang dalam dosa dan yang kedua baik keberagamaannya namun lemah– beliau menjawab: “Orang pertama, dosanya dipilkunya sendiri sedangkan kekuatannya mendukung kepentingan umat, dan orang kedua keberagamaannya untuk dirinya, sedangkan kelemahannya menjadi petaka bagi yang dimimpin”. Inilah pertimbangan dalam menetapkan pilihan.
      Anda boleh menetapkan pertimbangan Anda, tapi ingatlah selalu sabda Rasul: “Siapa yang mengangkat seseorang untuk satu jabatan yang berkaitan dengan urusan masyarakat sedangkan ia mengetahui ada yang lebih tepat, maka sesungguhnyaia telah mengkhianati Allah, Rasul, dan kaum Muslim”

Jabatan Adalah Amanah

“Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat” (An-Nisa’:58)


      Dalam Al-Quran, ada perintah menunaikan amanat kepada pemiliknya, disusul dengan perintah menetapkan putusan yang adil, kemudian dilanjutkan dengan perintah taat kepada Allah, rasul, dan ulil amr. Ulil amr disini adalah mereka yang memiliki wewenang mengelola urusan masyarakat, atau dalam kata lain kita sering sebut dengan pemerintah.
      Perurutan uraian ayat seperti ini menjadi petunjuk bahwa jabatan serta wewenang kebijakan dan pengelolaan, merupakan amanat yang bersumber dari Allah. Melalui orang banyak atau masyarakat, dan bahwa mereka mempunyai hak untuk memilih sendiri siapa yang mereka inginkan untuk maksud tersebut. Dan mau tidak mau urusan amanat itu harus bisa kita lakukan dengan sebaik-baiknya, karena sedikit saja kesalahan yang dibuat maka jangan heran itu akan mencelakai banyak orang. Pun pertanggung jawabannya langsung antara kita sebagai orang yang dititipi amanat dengan Sang Pemberi amanat itu sendiri.
      Ketenteraman dan stabilitas adalah harga mati kebutuhan mendasar akan kehidupan bermasyarakat, dan itu semua tidak akan terwujud tanpa ada satu arahan pasti. Disinilah undang-undang dan peraturan bermain peran sehingga setiap seluk beluk kehidupan ini tidak ada yang tidak diatur. Undang-undang konstitusional untuk Islam sendiri tentulah Al-Quran, dimana sifatnya yang boleh saya bilang amat sangat rigid dan tidak mungkin dilakukan tinjauan kembali dan revisi. Di negara ini UUD 1945 menjadi poros utama pengaturan kehidupan berbangsa dan bernegara. Pun setiap orang yang mendapat amanat, berarti berhak mengelola undang-undang yang ada agar stabilitas dan ketenteraman itu tercapai. Dari sini, semua masyarakat betapapun kecil dan bersahaja, sadar ataupun tidak, mengangkat penguasanya masing-masing. Dengan demikianlah terlihat kesejalanan ayat diatas dengan logika dan kenyataan masyarakat manusia secara luas.
      Jabatan bukan hak pribadi ataupun turunan, mesi kita sempat melihat handover tahta dari bapak ke anak pada sistem hierarki raja-raja terdahulu. Karena itu jangankan sogok, “hadiah” sekecil apapun yang diterima pemegang amanat yang ada kaitannya dengan jabatan maka itu terlarang untuk diterima. Ketika seorang pejabat pada masa Nabi menerima hadiah dan enggan menyerahkannya pada kas negara, maka Nabi bersabda, “Cobalah dia duduk di rumah ibunya, apakah ia diberi hadiah?”
      Wewenang mengelola adalah sesuatu yang berharga dan bukan sekedar memainkan peran agar skenario terus berjalan sambil dibayar, pun banyak orang yang bilang jabatan adalah hal yang “empuk”, sehingga boleh jadi ada yang salah langkah guna mendapatkannya. Dalam hal ini, Nabi bersabda: “Demi Allah, kami tidak mengangkat sebagai pejabat yang (kasak-kusuk) memintanya”. Beliau juga berpesan: “Jangan kasak-kusuk mencari jabatan karena apabila engkau memperolehnya tanpa kusak-kusuk, engkau akan dibantu Tuhan. Allah menurunkan malaikat mendukung langkahmu”.
     “...... jabatan adalah amanah, ia pada hari kiamat akan menjadikan yang menyandangnya hina dan menyesal kecuali yang mengambilnya dengan benar (bihaqqiha) dan menunaikan tugasnya degan baik”. Itulah nasehat Rasulullah kepada Abu Dzar al-Ghifariyang meinta jabatan kepada beliau.
     Nabi juga bersabda: “Apabila amanat disia-siakan, maka nantikanlah kehancuran”, ketika ditanya: “Bagaimana menyia-nyiakannya?”. Beliau menjawab: “Apabila wewenang pengelolaan diserahkan kepada yang tidak mampu”.

Rabu, 16 Oktober 2013

Wanita Sederhana


Siapa yang tidak mengenal Bung Tomo. Sekian ratus pasukan kompeni bersenjata lengkap porak poranda karena pria ini. Dialah yang mengharumkan tanah Surabaya dengan darah para mujahid. Dialah yang pertama kali menanamkan image bahwa arek-arek suroboyo adalah pemuda nekat tak takut mati. Hingga munculah istilah bonek. Hingga diperingatilah 10 november sebagai hari pahlawan. Semua atas sumbangsihnya.  Maka jadilah dia besar. Dan dunia menyejarahkan namanya.
Siapa yang tak mengenal Umar bin Khattab. Namanya telah begitu besar sebelum dia masuk islam. Jagoan gulat dari klan bani ‘Adi ini telah memiliki segalanya untuk disebut pria. Gagah, terhormat, kaya, disegani. Dan setelah memeluk islam, lengkaplah semuanya. Lebih dari seperempat dunia tercerahkan oleh islam dibawah kepemimpinannya. Maka jadilah dia menyejarah. Berbondong-bondong orang mempelajari karakternya. Beramai-ramai orang menulis tentang dirinya.
Siapa pula yang tak mengenal Slamet Riyadi. Dua pekan lebih Surakarta bertahan dari kepungan pasukan belanda di bawah komandonya. Tinggal sejengkal mereka masuk, namun selalu gagal. Hingga akhirnya belanda menyerah. Maka dipanggillah Slamet Riyadi, untuk bertemu dengan komandan senior pasukan belanda. Kagetlah bule tua ini. Dan dia menangis. Menangis karena malu. Dia harus menyerah kepada pasukan yang hanya memakai bambu runcing untuk berperang. Dan lebih menyakitkan, dia menyerah pada pemuda ingusan yang baru berusia 22 tahun. Maka harumlah nama Slamet Riyadi. Hingga di tengah kota Surakarta berdiri gagah patung seorang pemuda, dengan pistol di tangan kanan menghadap ke langit luas. Itulah Slamet Riyadi! Dan hingga detik ini, patung itu seolah menularkan semangatnya pada kami, rekan-rekan mahasiswa, untuk turun ke jalan dengan membawa seonggok kebenaran dari sudut pandang kami sebagai pemuda.
Mereka semua melegenda karena jasa-jasanya. Mereka terkenang karena pengorbanannya. Namun adakah yang mengenal wanita dibalik orang-orang hebat itu? Siapa yang mengenal istri Bung Tomo sebaik mereka mengenal suaminya? Siapa yang tahu tentang sosok istri Umar bin Khattab sebesar pengetahuannya pada sosok sang khalifah? Bahkan, siapa yang mengenal dengan jelas istri-istri Rosulullah selain Aisyah dan Khadijah?
Lalu apakah berarti wanita-wanita mulia itu tidak mempunyai peran atas kesuksesan suaminya? Tentu terlalu naïf jika kita berfikir demikian. Namun dari sini kita belajar sebuah kaidah sederhana bahwa: tidak semua orang hebat memerlukan orang yang sehebat dirinya untuk menemaninya dalam berjuang.
Kebanyakan dari mereka justru mempunyai istri yang sangat sederhana dan bersahaja.
Karena biasanya, orang-orang yang sederhana itu mampu menerima orang lain (suaminya) sebagaimana dia adanya, bukan bagaimana dia seharusnya. Sekali lagi, dia mampu menerima orang lain sebagaimana dia adanya, bukan bagaimana dia seharusnya.  Mereka tidak banyak menuntut. Maka jadilah orang-orang yang mempunyai istri seperti ini, kapasitas mereka akan cepat berkembang. Setahu saya, orang-orang hebat itu pasti pernah melalui perjalanan panjang yang sarat dengan kegagalan. Ketika dia “menyimpan” orang-orang sederhana dibalik perjuangannya dalam menghadapi permasalahan, dia pun akan sangat cepat menemukan berbagai penyelesaian.
Coba kita fikirkan. Ketika pria-pria hebat itu berkutat dengan kegagalan  dan berusaha mencari sebuah solusi, istri yang sederhana ini hadir untuk mengatakan bahwa dia tidak menuntut suaminya menjadi apapun, dia akan selalu setia dengan kondisi sang suami. Maka hadirlah ketenangan itu. Dan dibalik ketenangan inilah, solusi-solusi itu akan datang beriringan. Setelah solusi datang berhamburan, jadilah dia yang paling cemerlang di zamannya. Dia melejit, lalu menjadi pahlawan.
Di sisi yang berbeda, walaupun tidak selamanya, orang-orang yang mempunyai kapasitas tinggi terkadang melihat orang lain dengan cara pandang bahwa mereka harus menjadi seperti apa yang dia inginkan. Atau setidaknya, tidak terlalu jauh dengan kapasitas dirinya. Dan seringkali potensi alamiah seseorang tidak akan berkembang dengan baik saat dia hidup dengan orang seperti ini. Maka orang-orang besar itu biasanya, dia tidak memerlukan istri yang seunggul dirinya. Namun mereka memerlukan istri yang tepat dengan bingkai kepribadiannya. Sekali lagi, mereka tidak butuh yang paling unggul, namun yang paling tepat.
Sebelum tulisan ini saya akhiri, mari belajar banyak dari istri seorang Buya Hamka. Pernah suatu saat buya hamka diundang untuk mengisi ceramah. Sebelum beliau naik mimbar, sang pembawa acara tiba-tiba mempersilakan istri beliau untuk memberikan ceramah pembuka. Niat yang baik memang. Dia berfikir “kalau suaminya aja penceramah besar, tentu istrinya juga jago ceramah dong”. Tidak ada yang salah dari pemikiran itu. Maka majulah istri buya Hamka. Beliau mengucapkan salam, lalu berkata “Saya tidak bisa ceramah. Saya hanyalah tukang masak dari sang penceramah.”, lalu beliau turun. Sederhana. Dan kesederhanaan itulah yang membuat Hamka menjadi besar.
Tulisan ini hanya melihat dari sudut pandang laki-laki. Sangat memungkinkan untuk dilihat dari sudut pandang sebaliknya. Silakan setuju, sialakan tidak. Semua kesalahan dalam tulisan ini hanyalah karena sempitnya pemahaman saya.

Selasa, 20 Agustus 2013

Anda Hebat. Maka Perlakukan Semestinya!


Ingat dua hal ini sewaktu menghadapi orang: pertama, orang lain itu penting. Semua manusia penting. Akan tetapi ingat pula. Anda juga penting. Jadi, sewaktu berhadapan dengan orang lain, biasakanlah berfikir “kita adalah dua orang penting yang sedang duduk bersama untuk membicarakan sesuatu demi kepentingan dan keuntungan bersama.” - David  J Schwartz-. Sekali lagi ingatlah hal ini. Kita adalah dua orang yang sama-sama penting.

Ada hal menarik yang saya pelajari dari karya seorang David  J Schwartz. Simaklah apa yang dia tuturkan dalam buku the magic of thinking big.
Beberapa bulan yang lalu. Seorang usahawan menelepon saya untuk mengatakan kepada saya bahwa ia baru saja mengangkat seorang anak muda yang saya rekomendasikan kepadanya belum lama ini. “Anda tahu apa yang membuat saya menerima orang ini?” tanya kawan saya. “Apa?” saya bertanya. “caranya bersikap. Kebanyakan pelamar masuk ke kantor saya dengan setengah ketakutan. Mereka memberi saya semua jawaban yang mereka pikir ingin saya dengar. Sedikit banyak mereka bersikap seperti pengemis -mereka akan menerima apa saja-”.
           “Akan tetapi orang yang Anda rekomendasikan ini bersikap lain. Ia menghormati saya. Tetapi yang sama pentingnya, ia menghormati dirinya sendiri. Ia juga mengajukan pertanyaan sebanyak yang saya ajukan kepadanya. Ia tidak seperti kelinci yang ketakutan. Ia benar-benar manusia, dan ia akan bekerja dengan baik.”
Saya pernah bergaul dengan orang-orang yang “memaksa” saya berlaku jujur dalam mengerjakan soal ujian. Sewaktu SMA. Mereka mengajari saya bahwa apapun kondisinya, tetaplah berlaku jujur. Jangan mencontek. Lalu bagaimana dengan nilai jelek? Tetaplah tampil seolah-olah anda adalah pemegang nilai tertinggi. Jangan merisaukan hal itu. Karena anda telah melakukan sesuatu yang tidak dilakukan orang lain.
Itulah yang mereka ajarkan pada saya. Tentang mengumpulkan seluruh kepercayaan saat datang sebuah permasalahan. Memang sepertinya, hal ini tidak begitu menyelesaikan masalah. Karena bagaimanapun, soal-soal di ujian selanjutnya mempunyai bobot kerumitan yang sama. Berbeda dengan teman-teman yang memilih untuk saling mencontek –walaupun tidak semua- untuk mendapatkan nilai tinggi, nlai kami mungkin akan tetap jelek.
Tapi setidaknya, saya telah membuat deklarasi untuk diri saya sendiri bahwa saya memiliki apa yang tidak mereka miliki. Otak saya pun merespon hal ini dengan memberikan persetujuan-persetujuan “Benar. Nilai anda mungkin jelek. Tapi anda jujur. Ingatlah bahwa Allah pun akan lebih memihak anda saat seleksi masuk universitas. Yakin lah. Semua perjuangan itu membutuhkan pengorbanan. Dan disini lah kesempatan anda untuk membuktikan bahwa anda telah berkorban. Lagipula, apakah masa depan anda akan berakhir hanya karena nilai jelek saat ini? Apakah anda tidak bisa menjadi dokter hanya karena nilai anda tidak 9?”.
Pada akhirnya, saya tetap bisa berjalan tegak di tengah-tengah mereka. Saya tidak beralih menjadi manusia penakut yang bahkan menatap mata orang lain saja tidak sanggup. Walaupun nilai saya sempat diumumkan di depan kelas dengan nilai terendah, but the show must go on. -Mungkin- karena kepercayaan diri yang saya bangun itu lah, mereka yang mendapat nilai-nilai tinggi justru sering meminta saya mengerjakan soal yang tidak bisa mereka selesaikan. Aneh memang, saat yang jelek mengajari yang bagus. Tapi itulah efek dari menara sikap yang kita bangun. Dia memancarkan keajaiban yang sama sekali tidak kita duga sebelumnya.
Tapi jangan pernah melihat cerita ini dari sudut pandang bahwa kita harus mencari pembenaran atas kesalahan yang kita buat. Jangan mengkambing hitamkan jujur sebagai penyebab jeleknya nilai kita. Tapi ketika anda memegang sebuah prinsip yang tidak banyak orang melakukannya, percayalah bahwa anda memerlukan ini.
Jika saat ini anda dalam posisi serba minder dan merasa banyak kekurangan, sudah saatnya anda menyadari akan sebuah fakta bahwa ternyata,  orang lain tidaklah se-menakutkan apa yang anda  fikirkan. Lebih dari itu, anda akan mengerti bahwa ternyata, anda mampu menjadi “orang penting” di hadapan diri anda sendiri dan lawan bicara anda. Ada cara menakjubkan yang harus segera anda kerjakan:
Ingatlah, ketika bertemu orang lain –baik yang anda kenal ataupun belum-, mendekatlah padanya beberapa langkah lebih cepat. Tunjukkan bahwa anda antusias dengannya. Lalu, lakukan hal ini bersamaan. Ulurkan tangan untuk mengajak dia bersalaman, rekahkan senyum, dan sapalah dia..“hei”. Sekali lagi, lakukan itu bersamaan.
Seperti yang saya sampaikan, bahwa sikap ini ibarat bangunan. Maka kita perlu aksi untuk membuatnya berdiri. Jangan berharap banyak jika kita masih menjadi penganut faham bahwa “diam adalah emas”. Kita sendiri yang harus bekerja keras untuk membangun bangunan sikap ini. Maka mulailah dengan aksi. Dan pastikan bahwa dunia melihat aksimu.
Saya sendiri terkadang menjadi orang yang kurang kerjaan –menurut sebagian orang-. Alasannya sederhana. Karena saya sering mengamati orang-orang yang beraktifitas di sekitar saya. Pakaiannya, rambutnya, mimik mukanya, cara berjalannya, cara bicaranya, cara dia tersenyum, dan semua yang mereka lakukan. Bukan sekedar melihat, tapi mengamati. Dan saya belajar banyak dari hal itu. Awalnya saya tidak menemukan alasan yang tepat kenapa menurut saya, pekerjaan sepele ini begitu penting. Saya hanya merasa bahwa saya perlu melestarikan kebiasaan ini. Namun pada akhirnya, saya menemukan alasan yang tepat terkait hal ini. Masih di buku the magic of thinking big, Shwartz mengatakan “kebanyakan orang mengerti begitu sedikit tentang mengapa orang bertindak sebagaimana yang mereka perbuat, walaupun mereka dikelilingi oleh banyak orang sepanjang hidup mereka. Alasannya adalah, kebanyakan orang bukan pengamat yang terlatih. ” Dia lalu melanjutkan bahwa kita sebenarnya sering mengajukan pertanyaan pada diri kita sendiri, mengapa si A punya lebih banyak teman dibanding si B. Mengapa si john begitu berhasil, dan tom hanya biasa-biasa saja. Kita sering mempertanyakan hal itu. Namun sekali lagi masalahnya, kita tidak –atau belum- bisa menjadi pengamat yang baik untuk “laboratorium” kehidupan kita. Laboratorium yang menempatkan kita sebagai peneliti dan orang-orang di sekitar kita sebagai objek yang kita teliti.
Termasuk saat saya mengamati seorang teman yang menurut saya, dimana pun dia berada, dia selalu mempunyai kenalan. Luar biasa memang. Di masjid, banyak yang dia kenal. Di tongkrongan anak-anak setengah beres, dia punya teman. Anak-anak yang kerjaannya belajar-pulang-belajar-pulang pun dia akrab. Ternyata ada hal menarik yang tidak dimiliki orang-orang seperti dia. Dan ini sederhana. Perhatikan. Dia selalu tersenyun –dengan senyuman lebar dan tulus- saat pertama kali kontak mata dengan orang  yang dia jumpai. Dan setelah itu, dia selalu menyapa. Entah “hei”,entah “boss..”. Apapun. Atau bahkan saat di jalan –yang tidak memungkinkan untuk teriak-teriak-, dia selalu mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Sebuah hal yang menandakan bahwa dia antusias dengan lawan bicaranya. Dia mendeklarasikan bahwa dia menghargai orang lain di hadapannya. Dan kita sepakat bahwa, saat kita menghargai tinggi orang lain, mereka pun pasti melakukannya pada kita.
Pada akhirnya, ketika kita ingin bertransformasi menjadi orang yang percaya diri, kita memang diharuskan tampil mecolok. Setidaknya, kita harus “memaksa” orang lain menganggap keberadaan kita. Karena ketahuilah. Saat berbicaara kesuksesan, tidak ada yang tidak mencolok. Lihat saja Muhammad. Kalau tolak ukur kesuksesan kita adalah Rosulullah, adakah yang tidak kenal siapa Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthollib?

Selasa, 06 Agustus 2013

Terlalu Banyak Polemik di Negeri, Mahasiswa Wajib Ambil Satu Peran

Sedikit angkat bicara dengan berbagai polemik masa kini, nampaknya permasalahan dalam negeri masih terlalu banyak yang belum kita jamah. Berbagai macam masalah silih berganti datang dan pergi, dan saya yakin masalah-masalah ini tak akan pernah ada habisnya. Selesai satu lalu tumbuh lagi sekian ribu. Namun sekali lagi kegelisahan atas bangsa ini hanya milik segelintir orang saja yang saya rasakan, masih terlalu banyak yang leyeh-leyeh tak peduli. Tak lain dan tak bukan karena sejak mudanya mereka tak diajarkan untuk berinisiatif, sederhana, cuma butuh inisiatif. Kalau tak ada hubungannya dengan pribadi, yasudah buat apa ikut campur, malah nambah-nambahin masalah. Ini mindset yang terpaku pada saraf-saraf otak pemuda saat ini. Padahal satu jengkal di kanan-kiri mereka masalah tak pernah ada habisnya.


Sebagai iron stock masa depan, menurut saya tak layak sekali disebut mahasiswa kalau tak punya peran. Bukan hanya iron stock yang kini diam dan 20 tahun lagi baru berjuang menjadi negarawan, tapi harusnya sejak sekarang mahasiswa harus bisa menempa dirinya masing-masing. Guys, iron stock disini bukan hanya dijadikan stok saja yang berarti disimpan dan hanya dikeluarkan ketika saatnya tiba, bukankah lebih ganas menebas ketika besi-besi ini mulai ditempa sejak kini dengan berbagai macam polemik yang lebih sederhana saja, tak usah muluk-muluk bicara masalah negara dulu, di kampusmu pasti banyak masalah tak terjamah. Kenapa harus ditempa sejak kini? Agar 20 tahun lagi mahasiswa ini tak hanya menjadi seonggok besi, tapi telah ditempa jutaan kali dan siap menjadi pedang tajam.
Dimana mahasiswa ini ditempa? Di kampus tentunya. Namun sayang, tak banyak yang sadar bahwa kampus ini tempat tempaan. Yang banyak disadari adalah kampus ini tempat belajar, tak salah memang jika kita mengakatakan kampus ini tempat belajar. Tapi mbok yo ojo belajar buku tok, terlalu merugi menurut saya, karena disini terlalu banyak pelajaran yang bisa kita ambil.
Organisasi mahasiwa atau unit kegiatan mahasiswa adalah pendidikan informal yang paling saya rekomendasikan untuk belajar mengambil peran kehidupan kedepannya. Kalau saya katakan seperti ini pasti berbagai jawaban muncul. Pasti saya yakin bahwa kebanyakan mahasiswa saat ini sudah turut andil di berbagai organisasi mahasiswa dan unit kegiatan mahasiswa. Pertanyannya adalah, apakah kalian sudah mengambil peran? Apakah kalian sudah mendapat peran krusial untuk melakukan perubahan?
Yang saya lihat saat ini adalah satu orang mahasiswa bisa aktif di berbagai organisasi/unit kegiatan, bisa sampai 3 organisasi, 5 organisasi, atau bahkan lebih. Pasti pernah ketemu yang kayak gini, atau mungkin juga yang sedang baca sekarang. Herannya adalah mereka bangga dengan berjuta amanah yang tak satupun mereka punya kontribusi, “Gue di UKM A jadi staf bidang keuangan, gue di organisasi B jadi anggota divisi PSDM, gue di lembaga dakwah C jadi staf kajian islam, gue di mapala D jadi anggota bidang kesehatan, gue di lembaga kesenian E bagian ngeroll kabel, gue di acara seminar  jadi anggota PU”, terus saya jawab,”Bro elu udah tahun ketiga bro, masih aja jabatan staf nempel dimana-dimana, mending elu pilih satu tapi beneran laku”.
Inilah realitanya, banyak sekali mahasiswa yang ikut banyak organisasi tapi statusnya adalah anggota semi-aktif atau bahkan anggota non-aktif. Cuma ikut-ikutan doank, atau kalau anak kecil bilang ikut pupuk bawang. Gak usah muluk-muluk nanya AD/ART organisasinya, nanya prokernya aja saya jamin gak semuanya dia tahu. Atau bahkan anggota sebidangnya aja dia gak tahu. Datang rapat juga kalau pengen, ikut persiapan acara kalau acara gedhe doank, kalaupun dia gak ada juga gak ngaruh. Ada to yang kayak gini? Bejibun guys! Banyakkkk!!! Mending pilih satu organisasi tapi kamu dianggap memang “ada”.
Ayolah guys, terlalu banyak polemik dalam negeri ini, terlalu banyak lini yang perlu diperbaiki. Kalau masih bangga dengan banyak jabatanmu, itu semua cua omong kosong kalau kau tak punya sumbangsih peran. Lihat orang-orang besar disana, mereka adalah orang-orang yang punya inisiatif untuk mengambil satu peran nyata. Istilahnya kalau orang jawa bilang penggaweane rupo. Tentukan satu hal besar yang ingin kau ubah, dan buktikan dengan perubahan. Peran apapun kalau itu menghasilkan kontribusi nyata, nampaknya tak ada dunia yang akan menolakmu. 

Manusia tak lebih dari seonggok cairan berjalan, bedanya adalah yang benar-benar hidup adalah mereka yang menghidupkan. Jangan jadi mahasiswa yang hidup segan mati enggan, tapi jadilah mahasiswa yang punya peran!!!

Jangan Sampai Masa Tuanya Berakhir Di Panti Jompo

 Kulihat dari garis kelopak matanya yang sudah mulai berkerut
dan aku tahu bahwa dia selalu memperhatikanku di waktu kecil hingga kini
Kulihat dari raut wajahnya yang sudah mulai berkerut
dan aku tahu bahwa dia selalu menasehatiku di waktu kecil hingga kini
Ku lihat dari mahkota di atas kepalanya yang mulai memutih
dan aku tahu bahwa dia selalu memikirkan keadaanku di waktu kecil hingga kini

      Tak sengaja melirik berita infotainment salah satu channel TV swasta bersama keluarga dirumah yang menayangkan kunjungan beberapa selebriti ke Panti Werdha Budi Mulia Jakarta tiba-tiba saya teringat ketika Rapat Koordinasi Nasional ISMKI di Jakarta dulu saya juga pernah berkunjung kesini bersama mahasiswa kedokteran seluruh Indonesia. Saya tak akan bercerita banyak tentang Rakornas ataupun  tentang berita gosipnya, tapi saya akan mengajak anda berpikir tentang orang tua anda.

Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (Al-Mu’minun : 14)

        Karena saya tau pembaca blog ini adalah rata-rata pemuda yang belum pernah merasakan jadi orang tua, jadi saya ingin anda merasakan perasaan orang tua. Guys, sejak kita masih berupa sepasang spermatozoid dan ovum, emak kita udah rela merelakan tubuhnya untuk tempat kita bersemayam, sejenak sebelum dunia yang keras ini menerima kita dengan syarat. Segagah dan seanggun apapun engkau sekarang tak lain adalah hasil konversi air hina dina dan telur dari bapak-ibumu, yang kemudian selama 9 bulan tubuhnya, mengkonversikanmu menjadi manusia seutuhnya seperti pada ayat diatas.
        Pun setelah kita lahir dan menatap ganasnya dunia, beliau berdua masih dan terus rela mempertaruhkan waktu, harta, kehormatan, atau bahkan nyawa untuk anaknya yang bahkan ladang lupa menyebut namanya dalam tiap doa. Tapi lihatlah realitanya saat ini, realita yang saya hadapi di panti jompo ini. Hampir 200-300 mbah-mbah ini hidup disini, ada yang baru saja ada yang sudah puluhan tahun. Kemudian saya menuju salah satu bed dan mengobrol dengan pemilik bed tersebut.
        Mbah Wakinah namanya, usianya sudah hampir 70 tahun kalau saya tidak salah ingat. Beliau lahir di Nganjuk, dan wah saya berasa ketemu sesama orang Jawa Timur di Jakarta yang sangat crowded ini. Kemudian saya lumayan banyak mengobrol dengan beliau, dan menanyakan kenapa bisa sampai di Panti Jompo ini. Kemudian beliau menceritakan kisahnya ketika jauh negeri ini baru saja merdeka tahun 50an beliau dari Nganjuk merantau ke Surabaya sebagai seorang pembantu rumah tangga, kemudian ketika majikannya ke Jakarta pun beliau juga mengikuti kepindahan sang juragan ke ibukota pula. Hingga akhirnya pergolakan orde baru, majikannya kembali ke Hongkong. Dan tak mungkin juga kan beliau mau ikut ke Hongkong, akhirnya terdamparlah beliau di panti jompo yang dikelola pemerintahan Ibukota ini.

(Foto saya dan Mbah Wakinah)

        Yang saya tanyakan adalah dimana anaknya? Kemudian beliau bercerita bahwa anaknya ternyata juga ada di Jakarta, kalau tidak salah bekerja sebagai tentara cetus beliau, entahlah pangkatnya apa di kemiliteran. Pertanyaan terbesar kedua di benak saya adalah kenapa beliau tak hidup bersama anak dan cucunya, pun di almari beliau juga tercantum kontak nomor handphone anaknya yang kalau ingin dijenguk beliau bisa menghubungi putranya lewat pihak panti. Ini anaknya mikir apa sih bisa-bisanya beliau ditinggalin disini, bukankah lebih enak kalau diajak tinggal serumah saja? Inilah yang ingin saya renungkan bersama.
        Guys orang tua kita sudah merawat kita sejak kecil, mempertaruhkan nyawa pula. Jangan sampai lah kita menjadi anak yang tak peduli pada orang tuanya. Ketika di masa tua harusnya beliau menikmati sisa-sisa hidupnya namun malah harus hidup di panti jompo dengan keadaan apa adanya. Seharusnya sebagai anak kita punya tanggung jawab besar merawat beliau dengan setulus hati, pun ketika kita sudah merasa melakukan apaun yang terbaik untuk orang tua kita. Kita tak akan pernah bisa membalas segala budi baiknya pada kita. Dalam hati sebenarnya saya ingin bertanya kenapa tidak tinggal sama anaknya saja mbah? Ah tapi saya tak tega. Toh beliau menuturkan bahwa beliau senang hidup disini, merasa lebih dekat dengan pencipta. Meski sudah berumur beliau tetap rajin sholat tahajud dan puasa sunnah, itu pun yang beliau wasiatkan pula pada saya. Beliau juga berpesan,”Sekolah yang pinter, cepet lulus jadi dokter. Kalau nyari istri yang baik sifatnya, gak usah cantik gak apa-apa le. Tetep ingat sama Yang Diatas, dan semoga hidupmu sukses kelak”. Ya itulah penutup pertemuan singkat saya dengan mbah Wakinah yang benar-benar membuat batin saya terenyuh.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia.” (Al-Isra’ : 23)

Jangan sampai kau kehilangan satu pahala surga yang besar, hanya karena membuang kesempatan untuk tak merawat orang tuamu!

Senin, 05 Agustus 2013

Dan Tak Kan Pernah Terlahir Yang Serupa Dengannya

Benarlah apa yang dikatakan orang-orang itu tentang pahlawan. Bahwa mereka tak akan pernah mati. Meski tak pernah kita jumpai sesosok raga yang mampu berdiri sendiri, tapi namanya kan tetap hidup. Dia berlari menyusuri pelosok negeri. Mengabarkan bahwa dirinya pernah terlahir, dan melakukan kerja besar untk memakmurkan bumi ini. Dan benar pula kata mereka tentang orang sombong dan kesombongannya. Mereka tak kan pernah hidup, bahkan saat kaki masih mampu berlari. Karena nama mereka telah mati. Atau setidaknya, membusuk sebelum raganya benar-benar hancur tak terbentuk.


Lihatlah kesombongan yang keluar dari mulut besar panglima romawi. Saat dua pasukan itu berhadapan dengan jumlah yang tak sepadan. 240ribu kaki-kaki angkuh itu berdiri. Siap menebas kerongkongan pasukan muslim. Mencari kemenangan untuk menyebarluaskan perbudakan. Dada yang telah sesak dengan kesombongan itu membusung tinggi. Seolah mereka lah tuhan yang memang berhak menyombongkan diri. Dan orang-orang mulia yang mereka hadapi, hanya 46ribu! Mereka pun siap. Bukan hanya untuk menebas budak-budak romawi. Tapi mereka siap ditebas. Jiwa raga telah mereka siapkan. Bukan untuk menang, tapi untuk mati. Mati di jalan Allah.
Menjelang pertempuran dimulai, saat dua pasukan telah berhadapan, keangkuhan panglima romawi memuncak. Dia panggil panglima besar kaum muslimin. Dia ingin berbicara dengannya. Khalid pun maju. Kuda mereka berhadapan. Banyaknya pasukan romawi sedikitpun tak mampu menggetarkan khalid, bahkan kuda perang yang ia tunggangi.
Panglima dengan kesombongan itu bernama mahan. Dia katakan pada khalid “kami tahu bahwa yang menyebabkan kalian keluar dari negeri kalian adalah kelaparan dan kesulitan hidup. Jika kalian setuju, saya beri setiap orang dari kalian sepuluh dinar, pakaian, dan makanan, asalkan kalian pulang ke negeri kalian. Tahun depan saya juga kirimkan pemberian yang sama.”
Lihatlah. Betapa mulut besar itu telah membuat khalid geram. Khalid menggertakkan gigi-giginya. Inilah pemuda terbaik quraisy yang sedang mengajarkan kita tentang keberanian. Inilah pria yang bahkan lebih memilih menerjang malam bersama pasukan muslim daripada malam pertama dengan seorang gadis, akan mengajari kita bahwa sudah seharusnya kita tidak terima dengan segala bentuk penghinaan. Sekecil apapun. Inilah dia pemuda yang tidak tidur, dan tidak membiarkan orang lain tidur, mengajari kita bagaimana membungkan mulut-mulut besar tak berpendidikan. “kami ini satu kaum yang meminum darah manusia. Yang kami tahu, darah yang paling nikmat adalah darah orang-orang romawi. Kami datang untuk itu”.
Ia tarik tali kekang kudanya, kembali ke pasukannya dan mengangkat bendera tanda pintu syurga telah terbuka.
Berkahilah mereka, ya rob.. Hembuskan angin kencang pertanda kemenangan. Sebagai peneguh di dada mereka yang penuh dengan iman.
Khalid dan panglima-panglimanya tak terbendung. Gelora keimanan mereka mengobrak-abrik kekuatan lawan yang hanya terletak pada lengkapnya persenjataan. Tapi sekali lagi keimanan itu bicara. Bahwa kebenaran akan selamanya mendapat kemenangan. (Saya benar-benar menginginkan berada disana. Bersama khalid, abu ‘ubaidah bin jarrah dan para pasukannya).
Perang yarmuk adalah prasasti sejarah yang telah bersaksi bahwa banyaknya jumlah tak akan berarti apapun tanpa ada kekuatan lain yang membentenginya.
Tentu anda ingat tentang achilles dengan pasukan myrmidonnya? Yang kemudian menjadi inspirasi akan pentingnya sebuah pasukan khusus yang memang berjumlah terbatas.
Jauh sebelum pasukan berbendera hitam di sejarah mitologi yunani itu terbentuk, khalid sudah memiliki pasukan serupa. Dan kali ini, pasukan yang langsung berada dibawah komandonya itu harus berhadapan dengan 40ribu prajurit di sayap kiri romawi! Ya, 40ribu prajurit. Lalu berapa pasukan khusus khalid? 100 orang.
Anda pun tahu. Satu orang kopassus, yang merupakan pasukan terbaik ketiga di dunia saat ini, “hanya” mampu melawan 5 orang. Iya, pasukan elite terbaik ketiga setelah SAS dan MOSSAD itu setara dengan 5 orang pasukan. Dan saat itu, satu pasukan khalid harus bisa berhadapan dengan 400 pasukan lawan. 400! Dan ini bukan jackie chan atau jet li. Ini perang sungguhan,men. Kalian heran? Saya pun juga. Tapi itulah iman.
Anda tak perlu memiliki iman untuk menjadi prajurit hebat. Tapi anda tak akan menjad besar jika tak memiliki iman. Atau setidaknya, anda tak bisa sebesar khalid. Seperti yang sering saya katakan pada adik-adik mentoring saya. Jika ingin menjadi pemimpin hebat, apalagi untuk taraf uns, cukup pelajari teori-teori kepemimpinan. Baca buku-buku leadership dan belajar dari pemimpin yang telah diakui kepemimpinannya, lalu kalian pasti akan menjadi hebat. Setidaknya, anda akan mendapat pengakuan untuk itu. Tapi untuk menjadi besar dan mendunia, kalian perlu rumus lain. Dan itulah iman. Karena dengan iman, Allah lah yang akan menjadi mentormu. Yang akan menunjukkanmu cara-cara yang tak pernah tertulis di buku ciptaan manusia.
Khalid dan pasukan khususnya benar-benar membuat romawi kelabakan. Mata-mata para budak dunia itu terbelalak. Terpukau dengan kepahlawanan kaum muslim, terutama khalid. Dan sekali lagi, sejarah merekam percakapan khalid. Kali ini dengan jurjah, panglima romawi yang didadanya masih tersisa seidikit keimanan.
“khalid, apakah Allah telah menurunkan sebilah pedang kepada nabimu dari langit, lalu pedang itu diberikannya kepadamu, sehingga setiap kau hunuskan terhadap siapapun, pedang itu pasti membinasakannya?”
Khalid menjawab “tidak”
“lalu mengapa engkau dijuluki ‘si pedang Allah’?”
Khalid berucap “sesungguhnya, Allah mengutus Rasul-Nya kepada kami. Diantara kami ada yang percaya dan ada yang mendustakannya. Dahulu, aku termasuk yang mendustakannya. Lalu, Allah menjadikan hati kami menerima islam, dan memberi petunjuk kepada kami melalui rasul-Nya. Kami berjanji setia kepadanya. Rosul mendoakanku, dan beliau berkata kepadaku, ‘engkau adalah Pedang llah diantara sekian banyak pedang-pedang-Nya. Demikianlah aku diberi julukan ‘Pedang Allah’.”
“apa yang kalian serukan?”
“mengesakan Allah dan kebenaran Islam”
Jurjah memastikan “apakah orang-orang yang masuk islam sekarang akan mendapat pahala dan ganjaran seperti kalian?”
“ya.. bahkan lebih” khalid mantap.
“bagaimana mungkin, padahal kalian lebih dahulu masuk islam?”
Khalid berucap “kami hidup bersama Rasulullah, kami melihat tanda-tanda kerasulan dan mukjizatnya. Orang-orang yang melihat tanda-tanda dan mukjizat yang kami lihat dan mendengar ayat-ayat Allah serta sabda Rasul yang kami dengar, sudah sewajarnya masuk Islam dengan mudah. Sedangkan kalian yang tidak melihat dan mendengarnya, lalu kalian beriman kepada perkara-perkara yang ghaib, maka pahala kalian lebih besar jika kalian benar-benar ikhlas.”
Sejurus kemudian, jurjah mendekatkan kudanya kearah khalid, lalu dia berkata “ajarkan padaku tentang islam, wahai khalid”
Lalu dia sholat dua rokaat. Sebagai tanda bahwa iman telah memenuhi hatinya dengan segera. Dan bahwa Allah telah menggugurkan dosa-dosa yang telah dia perbuat. Panglima romawi itu kini telah ber-islam. Dan saat kedua pasukan kembali bertemu setelah masa istirahat, panglima gagah itu berperang di barisan kaum muslimin. Dia kejar cita-citanya yang baru dia temukan. Dan dia mendapatkannya. Gugur sebagai syuhada.


*Simak episode selanjutnya dari "serial kesempurnaan peperangan khalid"  yang insyaallah akan segera terbit di blog kesayangan anda. dokterberpeci.blogspot.com :)



Sabtu, 03 Agustus 2013

Pak Presiden Harus Bisa Ngaji

Negeri ini akan segera bangkit. Karena sejauh ini, wanita-wanita mulia di negeri ini terus melahirkan pemuda-pemuda penerus nafas perjuangan bangsa. Mereka tak terpengaruh dengan isu murahan bahwa jumlah manusia harus dibatasi. Dan tunas-tunas baru itu terlahir dengan membawa harapan. Harapan bahwa mereka lah yang akan menjadi permata zamannya. Dan saat ini, biarlah generasi kami yang mempersiapkan mereka. Biarlah kami -mungkin- tak merasakan nikmatnya kejayaan karena kami harus berjuang. Tapi kami ingin tersenyum di liang kubur kami. Karena kami menjadi bagian dari keberhasilan bangsa ini. Jika negeri ini mau berubah, memang ada sekian banyak sektor yang harus dibenahi. Dan di sektor pemuda, biarlah kami yang akan membenahinya.


UNS dan dinamika didalamnya memang selalu menyajikan warna berbeda dalam kehidupan saya. Termasuk akhir ramadhan ini. Di masjid yang berdiri megah itu, pemuda-pemuda UNS yang -lima sampai sepuluh tahun kedepan- akan memegang kendali  negeri ini, berkumpul dan melakukan kerja-kerja menakjubkan, saat orang-orang diluar mereka sibuk dengan dengkuran dan buaian mimpi.
Pemandangan yang saya jamin anda tak akan bisa menemukannya di tempat lain. Perhatikan pada sekumpulan  pemuda itu. Mereka berjalan kaki, satu barisan. Menyusuri tepian dengan kemerlip kedip lampu-lampu jalanan. Ada canda. Ada tawa. Ada bibir yang tersungging. Ada dagu yang mengernyit. Dan ada pukulan ringan menghantam jidat mereka. Bergantian. Berbalas-balasan. Hari itu, dunia milik mereka.
Lewatlah mereka, pada satu dua tiga komunitas yang berbeda. Komunitas yang mengumbar canda, tawa dan bahagia –yang sebenarnya mereka pun mempunyainya-. Dan mereka menjadi pusat perhatian. Aneh mungkin. Melihat sekumpulan pemuda bersarung, berpeci, menyusuri jalanan yang telah sarat dengan hedonisme. Melewati sekumpulan komunitas “anak gaul” dengan pedenya, tanpa peduli apa kata mereka. Walau sekarang mereka telah dicap sebagai “orang asing” bahkan di negeri yang membesarkan dirinya sejak bayi. Dan di moment-moment seperti itulah, saya rengkuh bahu saudara saya, dan saya katakan padanya “kita lihat saja. 5 tahun kedepan, siapa yang bakal memimpin negeri ini. Kita apa mereka”.
Sejurus kemudian, mereka sampai pada tempat yang sama. Bangunan kokoh megah tinggi besar itu, orang-orang menyebutnya sebagai masjid.
Ada yang lebih mempesona. Saat anda sempatkan untuk melirik ke dalamnya. Masjid yang berdiri megah itu tak ada apa-apanya dibanding megahnya pemandangan yang tersaji di dalamnya. Mereka masih muda. Hampir sama usianya. Hidup ditengah-tengah masyarakat yang semakin hari semakin kehilangan jati diri. Berbaur dengan lingkungan yang semakin memaksanya untuk masuk kedalamnya. Tapi saat ini, mereka berkumpul. Melakukan aktifitas yang sama. Mereka bertasbih, memuji tuhannya. Mereka bertakbir, rukuk dan sujud dengan gerakan sama. Senada, seirama. Hati mereka bertaut. Fikiran mereka selaras. Coba bayangkan, andai satu diantara mereka, satu saja dari mereka dilukai, berapa orang yang akan maju membelanya?
Semakin merangkaknya bulan ke tengah peraduan, keadaan semakin menakjubkan. Mereka sama berdiri. Berjajar dalam shaf-shaf yang tersusun rapi. Tangan mereka terangkat. Takbir. Memuji penciptanya. Menggetarkan bangunan kokoh di sekelilingnya.  Mereka larut, dalam indahnya kalimat-kalimat tuhannya. Ada isakan pelan mewarnai malam itu. Indah. Sungguh indah. Lalu dengarkan gemuruh rukuk mereka. Adakah mereka menyembah tuhan yang berbeda? Lalu serempak mereka tersungkur. Mengikrarkan bahwa tak akan ada ceritanya mereka menyembah sesamanya. Mendeklarasikan bahwa kedudukan mereka sama. Tak kan pernah terulang perbudakan, tak kan bisa hidup yang namanya kesewenang-wenangan. Karena tak mungkin mereka menginjak saudaranya smentara mereka sama-sama bersujud.
Di shaf paling depan, hanya seorang yang berdiri. Suaranya merdu mendayu. Menggetarkan sekian banyak hati. Hati yang memang terdesain untuk menerima kalimat-kalimat ini. Mempesona. Suaranya membuat orang-orang di belakangnya menangis. Kelopak matanya bengkak. Tak tertahankan, air mata itu mengucur pelan mebasahi kedua pipinya. Apakah karena suara itu, lalu mereka menangis? Bukan. Karena apa yang dia baca. Tapi, suara merdu itu menjadi faktor.
Sungguh indah saya bayangkan. Lima sampai sepuluh tahun kedepan, istana kepresidenan itu benar-benar telah menjadi mushola. Di sepuluh malam terakhir bulan ramadhan, para pemimpin negeri ini telah siap dengan shaf-shaf yang berjajar rapi. Pak presiden yang selama ini belum terkenal dengan kemampuannya menjadi imam, saat itu benar-benar membuat orang-orang dibelakangnya menangis mengingat dosa-dosanya. Malam itu, beliau benar-benar menunjukkan bahwa tak perlu waktu lama bagi negeri ini untuk keluar dari krisis yang selama ini menimpanya. Dan jalan keluar itu, dia lah yang pertama kali membukanya. Lhoh, sombong berarti? Memamerkan kesholehan? Gak ada urusan. Saya hanya ingin negeri ini tahu, bahwa dia punya pemimpin yang memang pantas untuk memimpinnya. Apakah hanya itu tolak ukurnya? Mungkin bukan. Tapi setidaknya, untuk syarat tersebut dia telah lulus. Presiden memang harus pinter ngaji. Lha kenapa? Oke, lihatlah pemimpin kita saat ini. Kalau urusan mereka dengan tuhannya saja nggak beres, bagaiamana mungkin mereka mengurus rakyat ini? Pantesan aja.. hehe. ups. :o
Adakah yang lebih indah selain mengetahui bahwa negeri ini mempunyai calon pemimpin yang bisa diandalkan?  Walaupun saat ini mereka belum tampil, saya pastikan bahwa masa-masa itu akan datang. Dan sekarang, kami sedang merintisnya. Mau ikut bersama kami?

Senin, 29 Juli 2013

Pilih Satu Mimpi Yang Tinggi, Lalu Kejar Sampai Mati!!!

Guys, akhir-akhir ini karena sedikit nganggur dirumah saya bener-bener jadi blog-stalker di depan laptop. Tapi InsyaAllah liburan ini saya sedang mencari inspirasi besar untuk melakukan perubahan besar, amiin. Nah ini semua tak lepas dari para orang-orang besar yang suka saya kepoin, tak usah jauh-jauh kalau nyari inspirasi, saya lebih suka nyari inspirasi dari orang-orang yang kehidupannya tidak jauh beda dengan saya tujuannya tak lain dan tak bukan untuk mengurangi distorsi mimpi. Karena ketika kita melihat orang yang tak jauh beda dengan kita dan dia adalah salah satu orang luar biasa, rasa-rasanya dalam hati kita bisa berkata “Tak ada yang tak mungkin, kalau dia bisa harusnya saya juga!” itu yang berusaha saya tanamkan dalam hati saya. Dan tokoh inspirator saya ini tentunya juga mahasiswa, namun dia 6 tahun lebih tua daripada saya. Sebut saja akh RidwansyahYusuf Achmad, beliau ini mahasiswa Teknik Plaonologi ITB angkatan tahun 2005. Mantan ketua GAMAIS (LDK) dan Presiden BEM KM ITB,dan saat ini sedang menempuh kuliah S2 di Belanda. Jangan tanya tentang prestasinya, subhanallah luar biasa. Dan rasa-rasanya tak terlalu berlebihan kalau saya mau mengkiblatkan cara berpikir seperti beliau. Yang saya sadari saat ini saya dan beliau sama-sama mahasiswa, dan tentunya saya juga bisa punya mimpi seperti beliau. Bahkan beliau juga sempat menuliskan kriteria istrinya juga lho, dan alhamdulillah di usia 23 tahun kemarin beliau menikah dengan kriteria istri yang pernah beliau tuliskan 3-4 tahun sebelumnya.
Setelah saya ubek-ubek blog beliau sebenarnya tak ada yang istimewa dari cara hidup beliau, semuanya hampir biasa saja. Tak jauh beda dengan mayoritas mahasiswa lainnya beliau juga seorang mahasiswa biasa. Lalu apa bedanya sehingga dia bisa menjadi luar biasa? Yang membedakan dengan kita adalah mimpinya. Beliau punya mimpi yang sangat besar sekali, ini contoh dreamboard milik beliau. Kalau masalah mimpi beliau yang lebih terperinci nampaknya pembaca bisa tanya sama beliau langsung aja ya.

Mimpi besar beliau pada dasarnya cuma satu, yakni membuat “Indonesia Tersenyum”. Tapi untuk mendapat mimpi besar tersebut pasti akan diraih memerlukan jutaan mimpi-mimpi yang lain. Bukan begitu? Oleh karena itulah beliau menambahkan impian-impiannya yang lain seperti S2/S3 keluar negeri, kekayaan, menjadi penulis, pengusaha, dan segala mimpi-mimpinya yang lain, bahkan menurut saya pantas kalau beliau juga ingin menambahkan impian sebagai Presiden Indonesia.
Pasti sebagian besar dari kita bertanya, itu mimpi apa nggak ketinggian. Kalau menurut saya mimpi memang harus tinggi, bahkan setinggi mungkin. Asal nggak mimpi buat jadi Tuhan, menurut saya semuanya rasional. Kalaupun mimpi yang tinggi itu nggak kesampaian, paling tidak masih nyangkut dibawahnya. Bukan begitu? Dulu saya punya mimpi kuliah di FK UI, dan alhamdulillah nyangkut di FK UNS. Harusnya dulu saya melempar mimpi ngambil M.D. di Harvard biar nyangkutnya di FK UI.
Setelah itu beberapa hari yang lalu saya coba mencari-cari cara untuk merangkai semua mimpi-mimpi saya, tentunya mimpi-mimpi itu harus fokus dan tidak boleh ada distorsi maupun friksi dalam pencapaiannya. Karena mimpi yang terstruktur itu akan jauh lebih mudah dicapai daripada mimpi yang gak jelas kemana-mana, atau bahkan jangan-jangan mimpinya juga gak jelas. Nah agar mimpi itu terstruktur maka kita butuh bikin proposal hidup. Kalau masalah ini saya gak akan ngeshare dengan versi saya karena saya sendiri juga masih belajar, kita pake acuan dari motivator ulung Jamil Azzaini aja ya.
Ini silahkan dibaca satu persatu guys :
Nah oke setelah kalian baca semua itu tadi apa yang harus kalian lakukan? Sederhana silahkan mulai dari sekarang! Kapan-kapan saya bakal ngeshare juga mimpi-mimpi saya buat para pembaca sekalian, tapi gak sekarang karena masih mau saya restrukturalisasi lagi dan mau dibikin dreamboard dulu. Oh ya satu hal lagi, sepuluh atau dua puluh tahun lagi kita bertemu dengan membawa pencapaian mimpi kita masing-masing ya guys! SEMANGAT!!!

"Semua orang adalah pemimpi. Mereka melihat segalanya bagaikan kabut lembayung pada musim semi, atau sebagai api yang membakar pada malam musim dingin. Beberapa dari kita membiarkan suatu impian mati, namun yang lain memupuk dan melindunginya, merawatnya dalam hari-hari buruk hingga membawanya ke sinar matahari dan juga cahaya yang selalu menghampiri mereka yang selalu berharap impiannya akan menjadi nyata." -Woodrow Wilson-

Jumat, 26 Juli 2013

Membaca, kemudian menulislah, maka kau akan abadi!!!

Menulislah, maka kau akan abadi!!! Ini peribahasa yang memecut saya untuk terus produktif menulis dan memacu saya untuk mengajak orang lain senantiasa menulis. Problematikanya adalah bagaimana kalau kita belum mampu menulis?

        Akhir-akhir ini tidak bisa saya pungkiri bahwa semangat saya untuk produktif nulis artikel di blog ini sedang membuncah. Tapi tak jarang ketika ide di otak saya sedang meletup-letup justru saya terkendala untuk menuliskannya dengan kekuatan bahasa maupun diksi yang indah dan menarik bagi pembaca. Akhirnya saya mencoba buka-buka artikel dengan kekuatan magis di blog sebelah tempat saya berkiblat, semisal blognya Ust. Salim A. Fillah, blognya Mas Dani Ferdian, blognya Uda Ridwansyah yusuf. Sungguh tulisan mereka bisa mengemas pembaca untuk mau tak mau terjun dan larut dalam karya-karya mereka, saya selalu terkagum-kagum dengan gaya bahasa mereka yang khas untuk mengajak pembaca terbawa alunan tiap huruf yang mereka padukan. Jangankan blog, buku mereka saja sudah banyak yang terbit di pasaran. Dan itu membuat saya semakin penasaran akan resep kekuatan tulisan yang mereka buat.
        Kemudian saya mencoba membuka biografi Ust. Salim A. Fillah, dan satu hal yang paling mencengangkan adalah ketika kelas 5 SD tahun beliau sudah belajar sejarah, biografi tokoh, filsafat, dan psikologi. Dan semua itu beliau pertegas di paragraf-paragraf selanjutnya bahwa hobi beliau untuk membaca memang begitu dahsyat. Kalau ada yang pernah baca bukunya Ust. Salim, pasti heran banget itu buku banyak banget rujukan buku ataupun pengarang yang beliau kutip. Pun sejak duduk di sekolah menengah beliau sudah aktif sekali menulis artikel-artikel meskipun kenyataannya artikelnya tidak pernah ada yang dimuat media maupun pernah menang lomba kepenulisan. Tapi semangat beliau untuk membaca dan menulis sungguh amat sangat gigih sekali. Tak pernah merasa jatuh. Tetap kokoh dengan semangatnya.
        Dan kemudian saya coba melempar diri saya untuk sejenak menelisik masa lalu saya saat kelas 5 SD, tahu apa yang saya lakukan? Saya lebih suka nangkring di depan layar TV sambil megang stick Playstation (PS) memainkan karakter-karakter Crash Team Racing (CTR), Tekken, Harvest Moon, Bishi Bashi Special, Winning Eleven, dan berbagai macam permainan lain yang bagi saya saat ini menjadi sebuah penyesalan. Kalaupun baca paling banter saya baca komik Ninja Hatori dan Pokemon. Timpang sekali bukan dengan apa yang dilakukan Ust. Salim meski sama-sama kelas 5 SD. Perbedaannya cuma dari sisi hobi membaca doank, apa yang kita lakukan saat kita kecil itulah yang merepresentasikan kita hari ini. Tak heran kalau tulisan saya saat ini sangat ecek-ecek, saya baru belajar baca awal semester 3 kuliah kemarin.
        Kemudian saya coba melontarkan pertanyaan kepada kedua orang tua, beliau berdua adalah orang yang sangat suka sekali membaca namun kenapa sampai bisa ketika saya kecil saya tak suka membaca? Jawabannya sederhana, PRIORITAS! Belia berdua selalu memprioritaskan waktu kosong untuk membaca dan menulis, pun itu juga yang ingin beliau tularkan pada saya ketika saya masih kecil. Namun sayang, meski dulu saya selalu dibelikan majalah Bobo dan Mentari saat kecil, beliau berujar saya cuma baca bagian komik bergambarnya saja, setelah itu cling majalah jadi onggokan sampah bagi saya. Karena kata beliau saat saya kecil saya kurang punya prioritas waktu kosong untuk membaca, tak lain dan tak bukan karena sya lebih disibukkan dengan mainan yang menampilkan gambar digital bernama Playstation. Komputer di rumah pun dulu tak beda jauh, karena saya lebih suka meng-install The Sims, Diablo, FIFA, dan berbagai macam game lain daripada saya harus mengetik untuk menghasilkan tulisan via komputer.
        Nah kemudian saya merenung sejenak, anak-anak kecil dan pemuda sekarang apa kabar? Mereka jauh lebih disibukkan lagi oleh game-game di gadget mereka yang notabene itu barang portable dan bisa dibawa kemana-mana. Yang saya lihat adalah waktu kosong mereka jauh lebih terlampiaskan pada gadget-gadget berlabel smartphone itu dari pada untuk membaca buku ataupun bacaan lain. Okelah kalau memang gadgetnya digunakan untuk menyimpan e-book ataupun digunakan membuka artikel di dunia maya. Ironinya adalah gadget tersebut lebih sering dipenuhi oleh game dan fasilitas chatting (BBM, WA, WeChat, Line, Kakao Talk, dll.) yang makin bikin autis anak-anak kecil jaman sekarang buat mantengin layar gadget mereka. Bener apa salah?
        Yasudahlah itu muhasabah dari ironi pemuda bangsa ini, yang pasti anak saya nanti akan saya arahkan agar tak mengulang sejarah kelam bapaknya dan anak-anak lain negeri ini. Inti dari pembicaraan saya panjang lebar diatas adalah bahwa MEMBACA ITU PENTING! Dari membaca kalian akan memiliki banyak hal, semakin banyak membaca maka semakin banyak hal yang kau punya dan orang lain tak punya. Hidup ini persaingan, dan dunia hanya mau menerima orang-orang terbaik, dan salah satu hal untuk menjadi orang terbaik adalah dengan membaca. Tak peduli bacaan apapun itu yang pasti positif dan bermanfaat. Dari membaca nanti kita akan lebih sedikit naik level yang lebih tinggi, yakni menulis. Karena menulis tanpa membaca adalah omong kosong dan membaca tanpa menulis adalah kerugian. Tulisan yang baik adalah tulisan yang memiliki kekuatan besar baik dalam gaya bahasa, diksi, ataupun kekuatan untuk membawa pembaca masuk dalam nuansa tulisan, dan tak dapat dipungkiri penulis yang seperti ini harus banyak sekali memiliki refrensi bacaan.

“kamu bisa merubah dunia hanya dengan kata-kata”
        Itu adalah kutipan salah satu scene film “Negeri 5 Menara” ketika Alif akan mendaftar menjadi seorang Jurnalis di Ma’hadnya. Nah yang disebut mengubah dunia dengan kata-kata itu tak sepenuhnya dengan kalimat verbal, karena pada dasarnya kalimat verbal hanya akan terucap sekali dan selanjutnya akan punah ditelan waktu. Namun saya rasa “dengan kata-kata” atau pada terjemahan arabnya “bil kalimah” disini lebih mengerucut pada sebuah tulisan, dimana tulisan itu bisa akses oleh berjuta orang pembaca dan otentik sekali untuk dibaca berulang-ulang. Dan ketika tulisan kalian dibaca olah banyak orang tentu kalian paling tidak telah berbagi dan bermanfaat untuk orang lain, bukan begitu? Syukur lagi kalau tulisan itu bisa menginspirasi banyak orang. Oke kita sudah tahu kan kunci dari semua ini, maka ayo kita mulai dengan banyak membaca, kemudian banyak menulis, dan otomatis kita akan banyak berbagi manfaat.

dengan membaca maka dunia ada dalam genggamanmu
dengan menulis maka kau akan merubah dunia yang telah kau genggam
dan dengan berbagi maka duniamu akan jauh lebih bermanfaat
karena dunia yang akan mengabadikanmu