Jumat, 28 Maret 2014

Mengembalikan Fungsi Pasar Sebagai Pusat Kegiatan Rakyat

Pasar Sebagai Pusat Keramaian
      Tidak hanya pergerakan nasional saja yang bermula dari pasar, sejarah besar kerajaan-kerajaan nusantara juga tak pernah lepas dari peran para pedagang pasar. Mulai dari kerajaan Hindu-Budha yang diprakarsai oleh Kutai, hingga kerajaan Islam Samudra Pasai, semua datang dari para pedagang pasar. Pasar sebagai pusat keramaian menjadikannya tempat strategis untuk terjadinya siklus perputaran. Tak hanya siklus perputaran uang, namun juga siklus perputaran informasi, ini yang paling penting.
      Peran pasar yang amat sentral sebagai pusat keramaian orang membuat tuntutan para manusia-manusianya membuat sebuah sistem agar segala sesuatu yang terjadi di dalam pasar teratur dan terus berkembang, hingga menciptakan sebuah sistem pemerintahan yang mengatur banyak orang, dan lebih berkembang lagi menjadi sebuah sistem ketatanegaraan. Dari sistem tatanegara yang dimanifestasikan melalui kerajaan-kerajaan itulah, saat ini negara kita bisa berdiri tegak.
      Pasar yang dipenuhi dengan profesi kalangan menengah ke bawah sekelas pedagang kecil, buruh/kuli angkut, tukang becak, kusir delman, dan profesi-profesi lain menunjukkan bahwa pasar adalah simbol ekonomi kerakyatan, dimana banyak rakyat kecil yang menggantungkan hidupnya pada pasar tradisional.
      Tahu kenapa menjelang pemilihan presiden dan anggota legislatif pasar selalu ramai dikunjungi para calon-calon manusia terpilih negara ini sebagai tempat untuk pencitraan? Karena hampir semua kalangan mulai anak kecil, anak muda, orang tua dengan status kaya maupun miskin, dengan tingkat intelektual rendah maupun tinggi, semua berkumpul disini untuk berjual beli. Sehingga bisa kita lihat pasar adalah tempat paling heterogen. Ini adalah sesuatu yang sangat potensial untuk menjadikan pasar sebagai pusat pergerakan.
Mengembalikan Fungsi Pasar Sebagai Pusat Kegiatan Rakyat
      Pasar di masa kekinian semakin tersaingi dengan adanya masa modernisasi yang memunculkan supermarket ataupun pusat perbelanjaan yang juga menyediakan bahan makanan pokok yang biasanya kita temui di pasar. Tidak bisa dipungkiri masyarakat Indonesia saat ini jauh lebih kritis dan lebih cerdas dalam menentukan pilihan. Keadaan pasar tradisional yang identik dengan image kotor, panas, sesak, dan tidak nyaman memberikan masyarakat pilihan lain untuk berbelanja beras, sayur-mayur, daging, dan kebutuhan pokok di supermarket yang bersih dan nyaman serta memiliki barang dagangan yang higienis, yang rela mereka tebus dengan harga lebih mahal.
      Padahal kalau boleh kita cermati, barang dagangan di pasar tradisional jauh lebih variatif dan murah. Sayur-mayur dan daging di pasar tradisional pun juga jauh lebih segar daripada di supermarket yang biasanya sudah beberapa hari diletakkan di lemari pendingin. Kegiatan interaksi sosial antara pedagang dan pembeli tentunya menawarkan suasana berbeda yang tidak ditemukan di supermarket.
      Tentunya hal paling mendasar yang perlu dibenahi sebelum kita bicara bagaimana agar pasar kembali dikunjungi adalah struktur fisik pasar yang terkesan tua dan usang perlu diremajakan serta direnovasi senyaman mungkin. Mungkin dengan memasang atap yang kokoh dan lantai kedap air sehingga ketika hujan tidak bocor dan menyebabkan genangan air dimana-mana. Kemudian kita berikan space yang lebih luas untuk tempat parkir, jalanan pasar, dan juga memperbaiki toilet umum yang ada di pasar sehingga dengan keadaan pasar yang lebih baik, tentunya pembeli juga akan lebih nyaman dan mau berlama-lama berada disana.
      Yang kedua, kita berikan pelatihan untuk para pedagang tentang menjaga kebersihan pasar, mulai dari kebersihan tempat berdagang hingga kebersihan barang dagangannya. Untuk para pedagang perabot rumah tangga dan baju, ajarkan bagaimana agar barang dagangan mereka tidak mudah berdebu, semisal menggunakan plastik penutup atau apa saja yang membuat barang dagangan mereka lebih awet. Untuk para pedagang daging dan ikan, ajarkan pada mereka tentang bagaimana memilih daging yang mereka ambil dari produsen, kemudian ajarkan juga bagaimana agar daging tidak mudah busuk dan mengemas daging menggunakan plastik sehingga tetap higienis. Untuk para pedagang sayur, ajarkan pula bagaimana memilih sayur-mayur yang segar ketika baru tiba dari produsen dan bagaimana cara menjaga kesegarannya agar tidak layu. Berikan pengetahuan pula bagaimana menyimpan dan mengemas sayur menggunakan plastik agar tetap higienis. Untuk para pedagang makanan dan jajanan pasar, berikan pengetahuan mereka agar tidak menggunakan bahan-bahan berbahaya dalam mengolah makanan, serta ajarkan mereka bagaimana cara menjaga kebersihan makanan yang mereka jual sehingga tidak merugikan konsumen. Semua itu demi menjaga kualitas barang dagangan pedagang itu sendiri serta meningkatkan kepuasan konsumen.
      Yang ketiga, kita lakukan kerjasama dengan pemerintah kota/kabupaten dan dinas-dinas terkait untuk menjadikan pasar tempat yang menarik untuk dikunjungi. Semisal kita bekerjasama dengan dinas pariwisata untuk mengadakan festival makanan tradisional atau festival jajanan pasar dengan harga yang lebih murah, yang tentunya acara ini berusaha mengajak masyarakat untuk datang ke pasar. Tentu ini sangat efektif melihat mayoritas warga Kota Solo yang suka dengan acara festival dan tontonan. Melihat potensi pasar sebagai pusat keramaian kita bisa bekerjasama dengan dinas terkait untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat. Semisal mengadakan kerjasama dengan dinas kesehatan untuk melakukan bakti sosial kesehatan dan sosialisasi program-program pemerintah seperti BPJS yang mulai berlaku sejak tanggal 1 Januari 2014 kemarin. Tentunya masyarakat akan lebih sering datang ke pasar, karena di pasar mereka tidak hanya mendapatkan barang-barang yang mereka butuhkan namun juga informasi yang bermanfaat.
      Yang tidak kalah penting kita juga harus dekat dengan pedagang dan masyarakat agar mereka mau bergerak untuk tujuan besar kita bersama, bagaimana caranya? Tentunya kawan-kawan di  sini sudah jauh memulai ini semua, beberapa langkah awal yang sudah ditempuh dengan mengadakan silaturrahmi, pengajian bersama, dan bakti sosial dengan para pedagang yang tentunya itu akan lebih mendekatkan kita dengan para pedagang. Semua tugas-tugas besar tadi bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata, namun di sini kita sebagai kaum muda tentunya juga memiliki tanggung jawab yang besar untuk ambil bagian menggerakkan dan mengajak masyarakat untuk kembali memakmurkan pasar, utamanya para kaum muda yang lain, yang mulai jarang terlihat di pasar karena gengsi dan sudah terlalu nyaman dengan suasana pusat perbelanjaan.
      Dengan mencoba menarik waktu jauh ke belakang dan mencoba memahami keadaan di masa kekinian, semoga artikel ini bisa menjadi perenungan bersama betapa sangat berartinya pasar tradisional. Ayo bersama kita lestarikan kembali pasar tradisional sebagai cagar budaya warisan nenek moyang kita dulu dan menjadikannya pusat kegiatan rakyat. Hidup Mahasiswa!!! Hidup Mahasiswa!!! Hidup Rakyat Indonesia!!!

0 komentar:

Poskan Komentar