Rabu, 31 Juli 2013

Nantikan Aku Dinda, Aku Akan Membuat Bidadari Cemburu Padamu

Bidadari bisa cemburu, bukan hanya karena elok paras dan perangaimu, namun mungkin juga karena pangeran disandingmu.

        Selamat malam Dinda, rembulan malam hari ini tetap seperti biasa. Muncul malu-malu dari balik gerombolan awan yang berarak-arak hitam ditutupi kelam. Cahayanya sayup-sayup lembut menerpa wajahku dengan sinar yang menenteramkan, aku yakin sinarmu kelak jauh lebih lembut daripada sinar Rembulan malam ini Dinda. Tak ayal jika nanti Rembulan dan gemintang mencemburui sinarmu yang elok nan syahdu menerpa rona wajahku yang sedang duduk di punggung bumi sambil membasahkan ayat-ayat yang merdu untuk-Nya dan untukmu.
       Tahukah engkau Dinda, setiap masa demi masa penduduk bumi senantiasa menambahkan jumlahnya satu persatu, hingga saat ini sekitar 7,1 milyar orang menginjakkan kakinya di kulit bumi yang usianya makin usang. Jumlah lelakinya tak kurang dari 3,5 milyar, dan diantara lelaki-lelaki itu ada aku. Lebih mengerucut di negeri dengan populasi terbesar nomor 4 ini dengan jumlah populasinya yang mencapai 251 juta, dan lihatlah diantara 120-an juta pria didaamnya ada aku pula. Begitu banyak pria-pria di muka bumi ini, tapi saksikanlah Dinda bahwa aku adalah satu dari sekian wajah-wajah yang terus menyebutmu dalam doa disepertiga malamku.
        Lihatlah Dinda, dari banyak pria-pria itu tentulah mereka semua tak sama, mereka pasti berbeda, begitupun aku. Pun aku juga memahamimu, tak ada wanita yang serupa dengamu, tak ada yang menyamaimu, dan pasti kau berbeda dengan yang lain. Tapi kita disini “sama” Dinda, aku dan kau berdiri pada kufu dan maqom yang sama sepertimu. Hanya tinggal menunggu waktu saja atas penantian kita yang berseru dan menderu malu pada diam. Aku akan menemukanmu, dan engkau akan menemukanku. Janji Allah disuratnya yang “Bercahaya” di ayat ke-26 itu akan berdiri kokoh tanpa gentar mempertahankan “kesamaan” kita, bukan begitu?
        Tak ada yang perlu kau risaukan saat ini dinda, tak usah kau bingung pria seperti apa yang akan membantu menopang seluruh kesedihanmu, yang mengasihimu dalam buaian syahdu, yang menemani siang dan malammu, yang bersedia mencicipi masakanmu tanpa rasa kelu, yang menjagamu beserta anak-anakmu, yang bersanding tawa kebahagiaan disampingmu atau bahkan yang akan bersedia menahan seluruh beban hidupmu dengan kaki-kakinya. Karena itu adalah aku. Aku yang akan menjaminkan semua itu untukmu Dinda. Tak perlu ada kekhawatiran apapun bagimu bukan? Karena aku telah bersedia mengorbankan segenap nyawaku untukmu kelak.
        Dinda, apa kau pernah mendengar nama ‘Abdurrahman Ibn ‘Auf? Dia adalah salah satu dari sekian orang terkaya di zaman Rasulullah dulu. Hartanya ta terkira, sedekahnya luar biasa. Kisaran sedekahnya bisa mencapai 40.000 dinar sekali bagi. Dan apabila coba dirupiahkan bisa mencapai 42,5 milyar, jumlah yang lumayan fantastis bukan untuk sekali sedekah. Bahkan apabila halal 1000 istri baginya, tak akan berkurang harta-hartanya. Tapi aku tak sekaya dia Dinda, dan cukuplah memiliki satu istri seperti dirimu telah mengayakan hatiku. Aku mungkin tak akan pernah bisa memanjakanmu dengan harta yang menjulang dan melimpah bak gunung uhud. Bukankah lebih dari cukup ketika nanti hartaku sudah telah menutup untuk memberikan kehidupan sederhana namun mengayakan akhirat kita kelak. Akan aku jaminkan bahwa kau akan merasa kaya karena telah memilikiku Dinda.
        Kemudian aku ingin berkisah pula padamu Dinda tentang seorang pemuda asal persia, Salman Al-Farisi namanya. Sejak kecil ilmu tentang teknik dan perang sudah ia telan. Siapa yang tak kenal kecerdasannya dalam strategi perang? Siapa yang paling tak bisa lepas dari cerita perang khandak? Tentulah dia, Salman pemuda yang amat sangat cerdas dengan idenya menggali parit di sekitaran daerah terbuka yang mengelilingi Madinah. Rasulullah pun mengakui tingkat pemikiran pintarnya. Mungkin aku tak sejenius dan secerdik Salman sehingga ia mendapa tempat disanding Rasulllah untuk menyiarkan agama-Nya. Namun bekal otak yang melekat dikepalaku ini rasa-rasanya cukup untuk bersanding denganmu Dinda, dan kemudian kita berdua bersama-sama melangkah pasti menyebarkan “amar ma’ruf nahi mungkar” sesuai tuntunan-Nya. Keindahan yang sederhana bukan untuk sekelas pemikiran pria sepertiku. Aku yang akan menjaminkan ilmuku ini cukup untuk kehidupan kita berdua kelak Dinda, di dunia maupun akhiratmu.
        Lalu aku akan akan sedikit berkisah tentang pria yang kuat lagi pemberani, apa Dinda sudah pernah mendengar tentang putra Walid Ibn Al-Mughirah yang bernama, Khalid Ibn Al-Walid? Siapa yang tak kenal tentang kekuatannya, musuh-musuh Rasulullah pun kelu lidahnya menyebut nama Khalid. Bahkan tak berlebihan apabila ia dijuluki Syaifullah Al-Maslul yang berarti “Pedang Allah yang terhunus” karena prestasinya dalam menakhlukkan timur tengah dan sekitarnya dalam naungan Islam. Tapi apakah aku sekuat itu Dinda? Tentu tak mungkin. Namun sudah cukup bukan ketika aku berdiri digarda depan untuk untuk senantiasa menjadi pedang yang terhunus menjaga kehormatanmu Dinda. Mempertaruhkan nyawa untuk menjaga setiap jengkal kemuliaan keluarga kita.
        Ya itulah diriku Dinda, diriku yang apa adanya. Tak sekaya 'Abdurrahman Ibn 'Auf, tak sepintar Salman Al-Farisi, tak sekuat Khalid Ibn Al-Walid. Tapi aku disini dengan keluarbiasaanku, dengan keistimewaanku, dan dengan segenap potensiku mengabdikan hatiku untuk-Nya dan untukmu Dinda. Kau akan melihat ribuan atah bahkan jutaan bidadari surga yang turun dari nirwana hanya untuk mencemburuimu, mencemburui karena kau yang memilikiku, mencemburui karena kau berhasil menawanku, mencemburui kebersamaan kita. Jadi tak perlu kau khawatirkan siapa pendampingmu kelak, karena itu aku. Dan aku yang kelak pasti akan jauh lebih luar biasa dari pada aku yang sekarang. Dan petemuan kita nanti yang akan mempertemukanmu dengan aku yang paling luar biasa. Nantikan aku Adindaku, karena Bidadari langit akan cemburu padamu.

Aku bermimpi melihatmu menari dalam tidur
Engkau dibawa malaikat melesat dari langit lapis tujuh
Dengan tabir sepotong kain sutera membalut kecantikanmu
Lalu malaikat berkata padaku,”Ini istrimu!”
Secepat kilat malaikat kepakkan sayap kembali ke langit.
Lalu kubuka tabir itu, tampakalah wajah merah dan sorot lembut matamu
Dan ternyata itu adalah engkau Dinda

0 komentar:

Poskan Komentar