Jumat, 26 Juli 2013

Membaca, kemudian menulislah, maka kau akan abadi!!!

Menulislah, maka kau akan abadi!!! Ini peribahasa yang memecut saya untuk terus produktif menulis dan memacu saya untuk mengajak orang lain senantiasa menulis. Problematikanya adalah bagaimana kalau kita belum mampu menulis?

        Akhir-akhir ini tidak bisa saya pungkiri bahwa semangat saya untuk produktif nulis artikel di blog ini sedang membuncah. Tapi tak jarang ketika ide di otak saya sedang meletup-letup justru saya terkendala untuk menuliskannya dengan kekuatan bahasa maupun diksi yang indah dan menarik bagi pembaca. Akhirnya saya mencoba buka-buka artikel dengan kekuatan magis di blog sebelah tempat saya berkiblat, semisal blognya Ust. Salim A. Fillah, blognya Mas Dani Ferdian, blognya Uda Ridwansyah yusuf. Sungguh tulisan mereka bisa mengemas pembaca untuk mau tak mau terjun dan larut dalam karya-karya mereka, saya selalu terkagum-kagum dengan gaya bahasa mereka yang khas untuk mengajak pembaca terbawa alunan tiap huruf yang mereka padukan. Jangankan blog, buku mereka saja sudah banyak yang terbit di pasaran. Dan itu membuat saya semakin penasaran akan resep kekuatan tulisan yang mereka buat.
        Kemudian saya mencoba membuka biografi Ust. Salim A. Fillah, dan satu hal yang paling mencengangkan adalah ketika kelas 5 SD tahun beliau sudah belajar sejarah, biografi tokoh, filsafat, dan psikologi. Dan semua itu beliau pertegas di paragraf-paragraf selanjutnya bahwa hobi beliau untuk membaca memang begitu dahsyat. Kalau ada yang pernah baca bukunya Ust. Salim, pasti heran banget itu buku banyak banget rujukan buku ataupun pengarang yang beliau kutip. Pun sejak duduk di sekolah menengah beliau sudah aktif sekali menulis artikel-artikel meskipun kenyataannya artikelnya tidak pernah ada yang dimuat media maupun pernah menang lomba kepenulisan. Tapi semangat beliau untuk membaca dan menulis sungguh amat sangat gigih sekali. Tak pernah merasa jatuh. Tetap kokoh dengan semangatnya.
        Dan kemudian saya coba melempar diri saya untuk sejenak menelisik masa lalu saya saat kelas 5 SD, tahu apa yang saya lakukan? Saya lebih suka nangkring di depan layar TV sambil megang stick Playstation (PS) memainkan karakter-karakter Crash Team Racing (CTR), Tekken, Harvest Moon, Bishi Bashi Special, Winning Eleven, dan berbagai macam permainan lain yang bagi saya saat ini menjadi sebuah penyesalan. Kalaupun baca paling banter saya baca komik Ninja Hatori dan Pokemon. Timpang sekali bukan dengan apa yang dilakukan Ust. Salim meski sama-sama kelas 5 SD. Perbedaannya cuma dari sisi hobi membaca doank, apa yang kita lakukan saat kita kecil itulah yang merepresentasikan kita hari ini. Tak heran kalau tulisan saya saat ini sangat ecek-ecek, saya baru belajar baca awal semester 3 kuliah kemarin.
        Kemudian saya coba melontarkan pertanyaan kepada kedua orang tua, beliau berdua adalah orang yang sangat suka sekali membaca namun kenapa sampai bisa ketika saya kecil saya tak suka membaca? Jawabannya sederhana, PRIORITAS! Belia berdua selalu memprioritaskan waktu kosong untuk membaca dan menulis, pun itu juga yang ingin beliau tularkan pada saya ketika saya masih kecil. Namun sayang, meski dulu saya selalu dibelikan majalah Bobo dan Mentari saat kecil, beliau berujar saya cuma baca bagian komik bergambarnya saja, setelah itu cling majalah jadi onggokan sampah bagi saya. Karena kata beliau saat saya kecil saya kurang punya prioritas waktu kosong untuk membaca, tak lain dan tak bukan karena sya lebih disibukkan dengan mainan yang menampilkan gambar digital bernama Playstation. Komputer di rumah pun dulu tak beda jauh, karena saya lebih suka meng-install The Sims, Diablo, FIFA, dan berbagai macam game lain daripada saya harus mengetik untuk menghasilkan tulisan via komputer.
        Nah kemudian saya merenung sejenak, anak-anak kecil dan pemuda sekarang apa kabar? Mereka jauh lebih disibukkan lagi oleh game-game di gadget mereka yang notabene itu barang portable dan bisa dibawa kemana-mana. Yang saya lihat adalah waktu kosong mereka jauh lebih terlampiaskan pada gadget-gadget berlabel smartphone itu dari pada untuk membaca buku ataupun bacaan lain. Okelah kalau memang gadgetnya digunakan untuk menyimpan e-book ataupun digunakan membuka artikel di dunia maya. Ironinya adalah gadget tersebut lebih sering dipenuhi oleh game dan fasilitas chatting (BBM, WA, WeChat, Line, Kakao Talk, dll.) yang makin bikin autis anak-anak kecil jaman sekarang buat mantengin layar gadget mereka. Bener apa salah?
        Yasudahlah itu muhasabah dari ironi pemuda bangsa ini, yang pasti anak saya nanti akan saya arahkan agar tak mengulang sejarah kelam bapaknya dan anak-anak lain negeri ini. Inti dari pembicaraan saya panjang lebar diatas adalah bahwa MEMBACA ITU PENTING! Dari membaca kalian akan memiliki banyak hal, semakin banyak membaca maka semakin banyak hal yang kau punya dan orang lain tak punya. Hidup ini persaingan, dan dunia hanya mau menerima orang-orang terbaik, dan salah satu hal untuk menjadi orang terbaik adalah dengan membaca. Tak peduli bacaan apapun itu yang pasti positif dan bermanfaat. Dari membaca nanti kita akan lebih sedikit naik level yang lebih tinggi, yakni menulis. Karena menulis tanpa membaca adalah omong kosong dan membaca tanpa menulis adalah kerugian. Tulisan yang baik adalah tulisan yang memiliki kekuatan besar baik dalam gaya bahasa, diksi, ataupun kekuatan untuk membawa pembaca masuk dalam nuansa tulisan, dan tak dapat dipungkiri penulis yang seperti ini harus banyak sekali memiliki refrensi bacaan.

“kamu bisa merubah dunia hanya dengan kata-kata”
        Itu adalah kutipan salah satu scene film “Negeri 5 Menara” ketika Alif akan mendaftar menjadi seorang Jurnalis di Ma’hadnya. Nah yang disebut mengubah dunia dengan kata-kata itu tak sepenuhnya dengan kalimat verbal, karena pada dasarnya kalimat verbal hanya akan terucap sekali dan selanjutnya akan punah ditelan waktu. Namun saya rasa “dengan kata-kata” atau pada terjemahan arabnya “bil kalimah” disini lebih mengerucut pada sebuah tulisan, dimana tulisan itu bisa akses oleh berjuta orang pembaca dan otentik sekali untuk dibaca berulang-ulang. Dan ketika tulisan kalian dibaca olah banyak orang tentu kalian paling tidak telah berbagi dan bermanfaat untuk orang lain, bukan begitu? Syukur lagi kalau tulisan itu bisa menginspirasi banyak orang. Oke kita sudah tahu kan kunci dari semua ini, maka ayo kita mulai dengan banyak membaca, kemudian banyak menulis, dan otomatis kita akan banyak berbagi manfaat.

dengan membaca maka dunia ada dalam genggamanmu
dengan menulis maka kau akan merubah dunia yang telah kau genggam
dan dengan berbagi maka duniamu akan jauh lebih bermanfaat
karena dunia yang akan mengabadikanmu

6 komentar:

  1. syukron artikelnya :D

    BalasHapus
  2. allah saja menurunkan wahyu pertamanya kepada nabi muhammad dengan ayat "iqra'"
    bacalah. semoga tulisan antum dapat menginspirasi kita semua. para penerus bangsa
    salam perubahan

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener sekali mbak..matur nuwun, amiin..

      Hapus
  3. Joss bro,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. matur nuwun bro
      haha namamu keren bro, kalau t*pi miring merek mir*s
      peci piring merk apa nih?

      Hapus