Jumat, 28 Maret 2014

Pasar Tradisional di Solo: Awal Mula Pergerakan Nasional

      Tak banyak orang tahu bahwa sejarah panjang bangsa ini tak lepas dari sejarah para pedagang, para pedagang yang menghabiskan hampir seluruh masa hidupnya di dalam pasar tradisional. Ijinkan saya sedikit bercerita dan membuka pikiran tentang seluk beluk bangsa ini, tentang para pedagang, tentang pasar tradisional, tentang pasar sebagai pusat keramaian, tentang awal mula pergerakan, tentang pemicu pergerakan nasional, dan tentang pasar di negeri ini di masa kekinian. Semoga bisa menjadi perenungan.
(Pasar Gede Hardjonagoro)
Lewat Pasar di Surakarta, Sejarah Bangsa Ini Berkembang
      Kita sebagai kaum muda layaknya sudah banyak tahu tentang awal mula pergerakan pemuda oleh Budi Oetomo yang digagas Dr. Wahidin Sudirohusodo tahun 1908. Tapi pergerakan kaum muda itu bukanlah pergerakan yang pertama, 3 tahun sebelum Budi Oetomo terbentuk ada sebuah organisasi besar yang dimotori pedagang yang terlebih dahulu menanamkan fondasi berpikir tentang pergerakan nasional. Kita sebagai masyarakat kota Solo, kota yang dijuluki Spirit of Java layaknya juga harus tahu mengapa kota ini disebut sebagai pusat semangat di Pulau Jawa, tak lain dan tak bukan karena kota inilah yang memicu pergerakan nasional untuk yang pertama kali.
      Cerita ini bermula ketika Belanda sudah menginjakkan kakinya di tanah ini, utamanya di Kota Surakarta selama kurang lebih 3 abad. Di awal tahun 1900-an keadaan pedagang-pedagang pribumi semakin terpojokkan dengan kebijakan-kebijakan monopoli perdagangan semisal Poenale Sanctie dan Koelie Ordonantie yang digagas pemerintah Belanda, dimana kebijakan-kebijakan ini lebih menguntungkan pedagang-pedagang Tionghoa yang bermigrasi dari negaranya ke tanah air kita. Titik pusat perdagangan Kota Surakarta kala itu yang sekarang ini kita kenal dengan Pasar Gede Hardjonegoro, pasar tradisional terbesar di Kota Surakarta yang didirikan di atas lahan seluas 6.120 m2. Lokasinya yang strategis, di persimpangan jalan kantor gubernur yang kini beralih fungsi menjadi Balaikota Surakarta, dan tidak jauh pula dari pintu gerbang Keraton Kasunanan Surakarta, menjadikannya sebagai salah satu pusat monopoli perdagangan terbesar di Pulau Jawa. Arus perdagangan yang melaju cepat di sini menjadikan para kolonial Belanda dan golongan pedagang Cina Tionghoa di Surakarta usahanya menjadi berkembang pesat dan semakin maju. Dominasi besar pedagang Cina saat itu masih bisa dibuktikan hingga saat ini dimana kawasan Pasar Gede masih didominasi pedagang etnis Tionghoa dan menjadi pusat perayaan Imlek tahunan di Kota Surakarta. Dan bisa kita lihat pula di seberang Pasar Gede berdiri apik Vihara Avalokiteswara Tien Kok Sie.
      Tidak jauh dari Pasar Gede tepatnya di daerah Laweyan, pada tanggal 16 Oktober 1905 para pedagang pribumi yang mayoritas beragama Islam, dimana kian lama nasibnya semakin tak menentu akibat kebijakan pemerintah Belanda, mulai bergerak dan menghimpun diri. Dimotori oleh Haji Samanhudi, mereka mendirikan sebuah organisasi dagang yang diberi nama Sarikat Dagang Islam (SDI). Kesamaan nasib dan semangat kaum proletar yang tertindas menjadikan SDI ini berkembang pesat, mereka yang bergerak di dalam organisasi ini membawa semangat para pedagang pasar tradisional pribumi untuk senantiasa berjuang. Perkumpulan ini menjadi salah satu perkumpulan yang berpengaruh. Pada tahun 1909 R.M. Tirtoadisurjo mendirikan Sarikat Dagang Islam Batavia. Kemudian di tahun 1910, R.M. Tirtoadisurjo mendirikan organisasi semacam itu di Buitenzorg. Tidak ketinggalan pula di Surabaya H.O.S. Tjokroaminoto mendirikan organisasi serupa, dan disusul di berbagai tempat lainnya di Pulau Jawa.
      Pada tahun 1912 H.O.S. Tjokroaminoto diangkat menjadi ketua Sarikat Dagang Islam (SDI), kemudian beliau dan beberapa rekannya seperti Abdul Muis dan H. Agus Salim pada tanggal 18 September 1912 mengganti nama SDI menjadi Sarikat Islam (SI) dengan tujuan memperluas arah gerak SI, tidak hanya dibidang ekonomi, namun juga lebih berkembang dibidang politik. Selain itu dengan menghilangkan kata dagang, keanggotaan SI jauh lebih terbuka untuk semua kalangan, tidak hanya berfokus pada profesi pedagang saja. Tentu saja hal ini semakin membuka peluang SI untuk jauh lebih berkembang lagi kedepannya. Menurut anggaran dasarnya, dapat disimpulkan tujuan SI adalah sebagai berikut:
1.      Mengembangkan jiwa dagang
2.      Membantu anggota-anggota yang mengalami kesulitan dalam bidang usaha (semacam koperasi)
3.      Memajukan pengajaran dan semua usaha yang mempercepat naiknya derajat rakyat
4.      Memperbaiki pendapat-pendapat yang keliru mengenai agama Islam
5.      Mengajarkan hidup bermasyarakat sesuai tuntunan agama
      Dapat disimpulkan bahwa SI bergerak dengan berasaskan agama, sosial-ekonomi, dan kerakyatan.
Namun seiring berjalannya waktu ternyata keanggotaan SI yang besar menimbulkan banyak sekali pemikiran. Pemikiran SI sendiri banyak berkembang tak lepas dari beberapa murid-murid binaan H.O.S. Tjokroaminoto sendiri, seperti Semaoen, Alimin, Tan Malaka, dan Darsono. Golongan muda SI inilah yang mulai disusupi paham sosialis-komunis oleh Belanda. Sehingga pada akhirnya SI pecah menjadi “SI Putih” yang berhaluan kanan dipimpin oleh H.O.S. Tjokroaminoto berpusat di Jogjakarta, yang pada akhirnya nanti berkembang menjadi Partai Sarikat Islam Indonesia (PSII) dan bergabung dengan Muhammadiyah dan “SI Merah” dipimpin Semaoen yang berhaluan kiri dan berpusat di Semarang, yang bersekongkol dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).
      H.O.S. Tjokroaminoto sendiri juga masih mempunyai murid-murid besar yang lain, seperti Kartosuwiryo yang pada akhirnya keluar dari SI Putih dan memiliki cita-cita sendiri untuk mewujudkan Negara Islam Indonesia (NII) dan juga sang Putra Fajar Soekarno yang berpaham nasionalis. Dari sinilah pergerakan-pergerakan nasional bangsa kita mulai berkembang hingga saat ini, semua tak lepas dari kiprah-kiprah para pedagang pasar tradisional.

0 komentar:

Poskan Komentar