Selasa, 29 Juli 2014

Memaknai Lebaran Idul Fitri dan Silaturrahmi ala Orang Indonesia

Budaya mudik dan berlebaran sambil bermaaf-maafan memang sudah mendarah daging di Indonesia. Idul Fitri memang seakan sangat ditunggu-tunggu kehadirannya. Ini di Indonesia. Kalau boleh saya ungkap di negara Timur Tengah termasuk Arab Saudi, momen Idul Fitri bukanlah sesuatu yang terlalu besar. Setelah melakukan Sholat Ied bersama masyarakat Timur Tengah kembali ke rutinitas dan pekerjaan masing-masing kembali. Namun ketika Idul Adha mereka merayakannya justru dengan suka cita dan begitu meriah, bahkan masyarakat Timur Tengah mengatakan Idul Adha sebagai Idul Akbar (Hari Raya Besar). Well, tak masalah menurut saya “lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya”.


Anda bisa bayangkan sendiri berapa besar perputaran manusia dan uang di Indonesia ketika Hari Raya Idul Fitri tiba, bahkan manusia sudah tak mengenal nilai uang ketika lebaran Idul Fitri. Berapapun uang dan risiko yang dikeluarkan demi bisa berkumpul dan bersilaturahmi kepada keluarga mereka rela dan ikhlas melakukannya. Ini positifnya, Lebaran Idul Fitri di Indonesia merupakan suatu simbol Silaturrahmi yang sangat universal, bukan hanya umat muslim saja bahkan yang tidak beragama Islam banyak juga yang turut merasakan gegap gempita Lebaran.
Sebelum saya mencoba membahas  lebih jauh tentang silaturrahmi dari segi ilmiah saya akan bahas terlebih dahulu tentang ucapan-ucapan ketika Idul Fitri. Apa yang harus kita ucapkan ketika kita bersilaturrahmi ketika hari raya Ied? Banyak hadits dan ulama mengatakan bahwa yang diucapkan adalah “Taqobbalallahu minna wa minka/minkum” yang berarti “Semoga Allah menerima amalku dan amal amalmu/kalian”, minka untuk kamu (tunggal), dan minkum untuk kalian (jamak), kemudian yang diberi ucapan menjawab “Taqobbal ya kariim” yang berarti “Semoga diterima olah Allah yang Maha Mulia”. Disini saya mau meyebut bahwa itu adalah doa, doa yang diberikan setiap orang muslim kepada saudaranya ketika bertemu pada 1 Syawal, apa yang diterima? Tentu saja ibadah ketika bulan Ramadhan. Untuk haditsnya silahkan googling sendiri, sengaja tidak saya tuliskan.
Lalu kalau Indonesia ditambah “Minal ‘aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin” apakah boleh? Menurut saya boleh-boleh saja, namanya doa asalkan baik tak masalah. Di Indonesia Idul Fitri dimaknai sebagai hari dimana kita telah disucikan setelah melewati bulan Ramadhan, sehingga banyak orang yang menambahkan kata “Minal ‘aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin”. Yang perlu digaris bawahi adalah arti “Minal ‘aidin wal faizin” bukanlah mohon maaf lahir dan batin. Ini yang banyak orang salah kaprah. “Minal ‘aidin wal faizin” berarti “Kita kembali (fitrah) dan meraih kemenangan”. Serta penulisannya yang benar adalah MINAL ‘AIDIN WAL FAIZIN, tolong diperhatikan ya karena salah penulisan akan berbeda makna. Saya melihat orang Indonesia banyak yang salah tulis untuk ini. Jadi yang dimaksudkan doa tersebut adalah bahwa ketika hari Idul Fitri kita berharap telah kembali menjadi orang yang suci dan bersama-sama pada hari Idul Fitri meraih kemenangan setelah berjuang melewati Ramadhan. Terus kalau ada yang mengatakan ucapan yang orang Indonesia lakukan ini bid’ah? Monggo, memang ini bid’ah dan tidak ada di zaman Rosul Muhammad tapi menurut saya tak ada masalah dengan bid’ah hasanah (baik), toh ini juga doa yang baik.
Kemudian saya akan membahas sedikit tentang mengapa silaturrahmi bisa memperpanjang usia, artikel populer-ilmiah ini saya temukan di buku “Dalam Dekapan Ukhuwah” karya Ust. Salim A. Fillah yang telah diringkas dan disimpulkan sebagai berikut

Myriam Horsten adalah seorang dokter yang menekuni bidang khusus kesehatan jantung. Ada yang menarik perhatiannya di situ, daya tahan terhadap serangan jantung ternyata tidak berhubungan langsung dengan pola makan, gaya hidup, dan bahkan tingkat tekanan ketika mreka menghadapi persolan dalam kehidupan bermasyarakat.
             Aneh, justru orang-orang yang lebih lemah daya tahan jantungnya ini adalah orang-orang yang tinggal menyendiri dgn tenteram, jarang menghadapi persoalan pelik kehidupan, dan mereka menjalani hari-harinya dalam kemapanan, nyaris gejolak dan tantangan. ritme kehidupan mereka linier datar.
              Penelitian dilakukan selama bertahun-tahun. Dan akhirnya didapat kesimpulan. Orang-orang yang aktif dan banyak terhubung dengan sesama manusia dalam sehari mengalami berbagai guncangan emosi, mereka tertawa, bersemangat, bergairah, dan juga marah. Mereka frustasi, berelaksasi, bersedih, tegang, tersenyum, takut, cemas, optimis, tercerahkan. ksemua hal yang sangat emosional dan dipicu dari hubungan-hubungan dgn sesama ini mempengaruhi berbagai hormon, utamanya adrenalin yang turut serta mengatur ritme kerja jantung.
          "Jantung dalam kondisi semacam itu," kata Myriam Horsten, "adalah jantung yang berolahraga. Jantung ini menjadi terlatih dan kuat. Jantung ini adalah jantung yang sangat sehat." Dan sebaliknya, jantung orang yang kehidupannya datar-datar saja, tenteram-tenteram, dan lebih-lebih sangat kurang interaksi sosialnya memiliki variabilitas detak yang sangat kecil.
       Jadi bagaimana caranya menguatkan jantung kita? "Gampang," kata Myriam Horsten. "perbanyaklah hubungan dengan sesama"

Oke, semoga dengan artikel ini kita semakin tercerahkan ya tentang bagaimana Idul Fitri di negara kita tercinta ini dan bagaimana memaknainya dengan bersilaturrahmi. Semoga bermanfaat, salam Dokter Berpeci.

0 komentar:

Poskan Komentar