Rabu, 01 Oktober 2014

Cita-citaku Masih Sama, Menjadi Seorang Guru

Semua memori dan impian-impian itu masih ada, masih belum terkubur, dan bahkan semakin mencuat. Masih teringet jelas pelajaran Bahasa Indonesia ketika aku duduk di kelas 2 Sekolah Dasar

       “Ayo anak-anak tulis nama kalian dan cita-cita kalian, kemudian tuliskan juga alasannya kenapa”, intruksi Ibu Poedji ketika mengajar kala itu.
      Mungkin karena ayahku yang seorang guru atau memang jiwa guru sudah ada dalam diriku, meskipun kawan-kawanku kala itu menulis berbagai macam profesi seperti polisi, dokter, tentara, insinyur, dan aku kala itu menulis profesi guru.
         Semua masih belum berubah, bahkan sampai semester 6 ketika duduk dibangku SMA aku masih menulis guru sebagai impianku. Di papan absensi kelas hampir semua kawan-kawanku menulis UNAIR, UB, ITS, UGM, UNS, UI dan berbagai universitas lain sebagai tujuan kuliah selanjutnya, dan aku masih belum merubah impianku karena aku menulis UNESA di papan itu. Padahal, guruku SMA kala itu bahkan banyak yang menyarankan jadi dokter daripada aku menjadi guru. Dan banyak pula kawan-kawanku yang menganggap guru adalah pilihan terakhir mereka. Namun bagiku tak ada hal yang menyenangkan selain bisa berbicara didepan para murid dan kita begitu diperhatikan, itu saja yang aku inginkan, tak lebih. Dan kita tahu juga baha ilmu yang diajarkan akan selalu menjadi amal jariyah meski raga kita telah terpendam didalam tanah. Mungkin itu motivasi besarku untuk menjadi guru hingga saat ini.
         Namun semua berubah ketika aku hampir memilih Pendidikan Biologi sebagai tujuan kuliahku selanjutnya, namun ayah ingin sekali putra semata wayangnya jadi seorang dokter. “Sama-sama pelajaran biologi mbok dicoba pilihan pertama kedokteran dulu Masa iya Cuma anak dokter yang bisa jadi dokter, anaknya guru juga harus bisa jadi dokter”,nasihat ayah ketika aku mau memilih jurusan.
            Masih teringat pula ketika SNMPTN undangan aku memilih FK UI sebagai pilihan pertama dan FK UGM sebagai pilihan selanjutnya, dan sejak saat itu entah mengapa menjadi terlalu obsesif untuk masuk menjadi mahasiswa kedokteran yang bahkan tak pernah kubayangkan akan jadi seorang dokter. Tapi takdir memang sudah menjadikanku mahasisa kedokteran, di UNS. Sempat merasa kayaknya nyasar banget masuk disini, tapi lama-kelamaan aku bangga dan merasa bahwa memang disinilah tempat terbaikku.
            Meski sebentar lagi akan menerima gelar Sarjana Kedokteran tapi cita-citaku untuk menjadi guru masih belum padam. Setidaknya kini cita-citaku bisa sedikit upgrade yakni menjadi dosen. Yak dosen, akan senantiasa aku perjuangkan.
            Guru bisa mendidik seseorang menjadi seorang dokter, polisi, tentara, teknokrat, pengacara, hakim, dan berbagai profesi lain. Namun tak berlaku sebaliknya karena profesi-proesi tersebut tak bisa mendidik seseorang menjadi seorang guru. Betapa mulianya guru-guru kita di masa yang silam?

0 komentar:

Poskan Komentar