Senin, 02 September 2013

Wayang Kulit, Kerumitan Cipta yang Indah

Pertunjukkan wayang kulit merupakan warisan seni dan budaya Indonesia yang indah dan harus dijaga kelesatariannya. Dari pertunjukkan wayang kulit, kita bisa mengahyati beragam kesenian di dalamnya, mulai dari seni rupa,seni gerak, seni suara, seni musik dan juga seni sastra. Wayang kulit yang sebagai media dalam sebuah pertunjukkan wayang kulit ternyata melalui proses pembuatan yang cukup rumit dan panjang. Mulai dari penyiapan bahan dasar pembuatanya, yaitu kulit yang biasanya dari kulit kerbau atau kulit sapi, sampai tahap pemasangan cempurit. Berikut ini tahapan-tahapannya.
1. Proses Persiapan Bahan/pengolahan Kulit
Kulit yang bagus untuk membuat wayang kulit adalah biasanya adalah kulit kerau atau sapi yang masih muda. Kulit yang masih muda memiliki serat-serat yang lebih halus sehingga akan lebih awet dan tidak mudah patah.
Gambar  Pemilihan Kulit
Proses pengolahan kulit adalah sebagai berikut:
  • Kulit direndam dalam air selama satu hari, agar kulit menjadi lunak sehingga akan mempermudah proses selanjutnya.
  • Setelah itu kulit dipentang kembali dan dijemur hingga kering.
  • Kulit yang telah kering kemudian ditipiskan yaitu dengan cara dikerok. Bagian yang dikerok adalah sisa-sisa daging yang masih melekat pada kulit (bagian dalam) dan bagian yang masih ada rambutnya. 
  • Kulit yang sudah dikerok, kemudian dibersihkani dengan kain halus yang telah dibasahi air, dan untuk menghaluskannya, kulit diamplas (bisa menggunakan daun jati kering sebagai amplas).
  • Kulit yang telah dikerok dan dihaluskan, lalu dijemur kembali hingga kering secara merata.

2. Proses Tatah Wayang
Tatahan adalah termasuk tahap yang penting dalam proses pembuatan wayang kulit. Diperlukan konsentrasi dan keterampilan serta rasa seni yang tinggi.  Namun sebelum proses tatah, lembaran kulit yang telah disipkan dibuat sketsa wayang yang akan dibuat. Proses ini disebut Nyorek (corek).
Gambar Proses Penatahan
Peralatan Yang Digunakan
  • Pandukan : Landasan tatah yang terbuat dari kayu samba, kayu trenggulun atau kayu sawo
  • Tindih: logam seberat sekitar 2,5 Kg, biasanya terbuat dari kuningan, namun terkadang juga ada yang terbuat dari besi.Tindih berfungsi untuk menekan atau memberati wayang kulit yang sedang ditatah. Sehingga kulit tidak bergeser kesana kemari sehingga hasilnya pun bagus.
  • Tatah :alat yang paling penting dalam proses tatah wayang kulit. Setidaknya harus tersedia 10 macam tatah dalam pembuatan wayang kulit ini. Namun pada dasarnya tatah bisa dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu tatah lantas atau tatah lugas, yakni tatah yang mata tatahnya berupa garis lurus, dan tatah kuku yang mata tatahnya berupa lengkungan.
  • Ganden : semacam palu besar yang terbuat dari kayu (biasanya dari kayu asem atau sawo).
Selain peralatan utama di atas, ada bebrapa peralatan tambahan yang digunakan diantaranya adalah kangka, paku corekan, pensil, mistar atau penggaris, penghapus dan batu asahan.

3. Jenis Tatahan
Setidaknya ada 16 macam jenis tatahan dalam seni kriya wayang kulit. Berikut ini adalah jenis-jenis tatahan pada Wayang Kulitgagrak Surakarta dan Yogyakarta.
             1. Tatahan Tratasan
Tatahan ini digunakan untuk membuat pola semacam garis, baik garis lurus maupun yang melengkung lebar dan menyudut. Tatahan tratasan hampir selalu diselang-seling dengan tatahan bubukan, dengan maksud agar kulit di bagian yang ditatah itu tidak mudah patah atau robek.
2. Tatahan Bubukan
Berupa lubang-lubang kecil berderet, yang digunakan untuk membuat kesan gambaran garis. Biasanya tatahan bubukan diseling dengan tatahan tratasan. Tatahan berseling antara tratasan dengan bubukan ini juga disebut tatahan lajuran atau tatahan lajur saja.
             3. Tatahan Untu Walang
Berupa garis-garis terputus. Alat yang digunakan untuk membuat tatahan untu walang adalah tatah trentenan. Tatahan untu walang disebut juga tatahan semut ulur.
4. Tatahan Bubuk Iring, atau Buk Iring
Berupa lubang-lubang yang membentuk deretan seperti huruf U. Biasanya tatahan ini digunakan untuk mengerjakan bagian wayang yang disebut ulur-ulur dan uncal kencana. Tatahan ini juga sering disebut bubuk ring atau bubukan iring.
              5. Tatahan Kawatan
Disebut juga tatahan gubahan biasanya digunakan untuk `mengisi' sumping, bagian praba, dan gruda mungkur.
6. Tatahan Mas-Masan
Berupa deretan selang-seling antara titik dan koma, yang biasanya digunakan untuk mengerjakan bagian uncal kencana, sumping, gruda mungkur, kalung dan jamang.
              7. Tatahan Sumbulan
Biasanya dikombinasikan dengan tatahan mas-masan, digunakan untuk mengerjakan bagian kalung, jamang, dan sebagainya.
8. Tatahan Intan-intan
Digunakan untuk mengisi bagaian sumping, berselang-seling dengan tatahan kawatan. Bentuk tatahan ini, yang juga disebut tatahan intan-intanan, seperti bunga mekar, tetapi hanya separuh.

4. Proses Sungging
Proses sungging adalah tahap finishing/penyelesaian dalam proses pembuatan wayang kulit. Proses sungging adalah proses pemberian warna pada wayang yang sudah selesai di tatah. Dalam hal ini, hal yang perlu diperhatikan adalah cara mencampur warna dengan baik, menghaluskan kulir sebelum didasari dan pembuatan ancur.
Gambar Proses Sungging
Wayang yang akan disungging terlebih dahulu harus dihaluskan dengan cara menggosok dengan mengunakan botol atau alat lain agar kulit licin dan bekas pahatan rata kembali. Hal ini agar warna yang akan dikuaskan akan melekat lebih kuat.
Pembuatan ancur yang baik adalah dengan cara merendam lempengan-lempengan ancur ke dalam cairan “Londho” (Soda). Lempengan yang sudah direndam ke dalam cairan “ Londho”, kemudian dipanaskan dan diaduk-aduk terus hingga rata dan tidak hangus, dan menjadi kental dan lekat. Tahapan proses sungging dalam seni kriya wayang kulit adalah sebagai berikut:
1. Andasari
Proses pemberian warna dasar pada kulit seluruh bagian wayang secara merata dan tipis. Warna yang digunakan biasanya adalah warna kuning gading (campuran dari warna kuning dan putih), atau warna putihan balung (warna putih dari abu tulang). Tujuan dari kegiatan in adalah untuk menutup pori-pori kulit agar permukaannya mejadi rata dan padat. Warna ini menjadi dasar untuk warna-warna selanjutnya.
2. Merna
Proses penerapan warna pada wayang. Secara berurutan pewarnaannya adalah sebagai berikut:
  • Nyemeng (hitam), yaitu memberikan warna hitam pada wayang dibagian-bagian yang harus diwarnai hitam seperti pada rambut, wajah/muka (wayang-wayang tertentu), dan sebagainya.
  • Amrada, yaitu memberikan warna emas pada bagian-bagian wayang yang harus diberi warna prada. Pewarnaan ini yaitu mewarnai dengan bahan emas yang dibuat piph seperti kertas. Kadar emas yang umum dipakai untuk bahan ini berkisar antara 18 sampai 22 karat. Prada diletakkan terlebih dahulu sebelum warna lainnya. Tetapi bila memakai warna emas yang bukan dari emas asli (biasa disebut Brom), dapat dilakukan setelah warna lainnya selesai.
  • Amepesi, yaitu mebetulkan bagian yang seharusnya tidak diprada dan juga menyepurnakan bentuk hiasan dengan menggunakan warna putih yang sekaligus menjadi warna dasar sari warna selanjutnya.diprada agar sesuai dengan keinginan kita dalam hal menggunakan warna putih.
  • Anjambon, yaitu menerapkan warna merah mudah pada bagian wayang yang pantas diberikan warna merah muda.
  • Anjene, yaitu memberi warna kuning pada bagian-bagian wayang yang seharusnya berwarna kuning seperti konca, ukiran patran dan bagian lain yang nantinya akan diberi warna orange dan hijau. Warna kuning yang digunakan ada dua macam, yaitu kuning enom yang nantinya untuk gradasi warna hijau, dan warna ktua (menyerupai warna kunyit), yang nantinya digradasi dengan warna kapurento dan jingga.
  • Ngijem Nem, yaitu memberi warna wayang dengan warna hijau muda. Diterapkan pada bagian yang sudah diwarnai kuning muda. 
  • Ambiru, yaitu memberikan warna biru muda pada bagian-bagian yang pantas diberi warna biru muda. Biasanya untuk menggambarkan inten-intenan ,penggambaran bebatuan yang biasa digunakan sebagai perhiasan.  
  • Anjingga, yaitu memberi warna jingga atau orange yang biasanya dikombinasikan dengan warna ungu. Diterapkan pada bagian yang telah diwarnai kuning tua.
  • Anyepuhi, yaitu member warna pada bagian yang telah diberi warna enom (muda) dan tua dengan warna-warna yang lebih tua atau gelap. Hal yang perlu diperhatikan adalah gradasi antara warna yang satu dengan warna yang lain jangan terlalu jauh. Tingkatan warna disesuaikan dengan bidang sungging, dan jumlah tingkatannya tidak dibatasi. Namunsemakin banyak tingkatannya. Akan semakin bagus. Untuk membuat warna menjadi lebih tua atau gelap, bisa ditambahkan dengan warna hitam, semakin banyak wrna hitam yang dicampurkan, maka warna yang dihasilkan akan semakin tua.
3. Isen-isen
Isen-isen adalah member variasi isian pada bidang kulit yang telah diwarnai. Proses ini bertujuan untuk memperindah sunggingan itu sendiri. Bentuk isian yang biasa digunakan antara lain cawen (cawi), drenjeman, waleran, isian caah gori (bempa garis silang), sisik dan sebagainya.
4. Angedus
Angedus atau ambadar merupakan tahap terakhir dalam proses sungging wayang kulit. Tujuan dari proses ini adalah memberikan lapisan penutup/pelindung terhadap warna agar lebih kuat, mengkilap dan tahan lama bagi permukaan kulit yang sudah diwarna dengan bahan transparant. Bahan yang biasa digunakan antara lain ancur lempeng, putih telur, vernis dan politer. Selain menggunakan bahan tradisional tersebut, pelapisan juga bisa menggunakan  bahan pelapis modern. Namun untuk pelapis modern biasanya tidak menggunakan kuas, melainkan alat semprot (spreyer). Bahan yang digunakan antar alain pisatif, varnish acrelic dan sebagainya.
Bahan penutup yang sudah disiapkan dioleskan secara merata, tipis dan diulangi hingga permukaan kulit mengkilap. Tetapi untuk prada , biasanya tidak dilapisi, karena bila terkena lapisan kilat emasnya akan hilang

Demikianlah proses pembuatan wayang kulit. Berbagai tahapan yang rumit dan panjang tetapi menghasilkan sebuah karya seni yang sangat indah.

0 komentar:

Poskan Komentar