Selasa, 24 Desember 2013

Sikap Terbuka Dan Toleran Di Tengah Pluralisme Dakwah Kampus

      Islam adalah satu-satunya agama yang memandang bahwa setiap individunya terlahir sebagai seorang da’i, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Namun demikian, jelas diterangkan di Al-Quran bahwa Islam adalah rahmatan lil’alamin yang berarti Islam adalah agama yang universal dan ditujukan kepada seluruh umat manusia, dan kita sebagai manusia berstatus Muslimin wajib memastikan setiap orang menghirup nafas dakwah yang kita hembuskan.

      Menjadi problematika besar ketika kita harus menegakkan dakwah kampus  di tengah masyarakat mahasiswa yang amat sangat heterogen, heterogenitas disini tidak hanya terbatas pada hubungan interaksi dengan sahabat kita yang beragama lain, namun juga dengan penganut Islam yang lain dimana setiap dari kita memiliki pemahaman yang berbeda dalam beragama. Di sisi lain kita dituntut agar orang lain mengerti dan menganut seruan kita kepada kebaikan, padahal dakwah harus melibatkan dialog bermakna yang penuh kebijakan, perhatian, dan kesabaran. Dengan kata lain meski kita memiliki pemahaman yang berbeda, dakwah tetap harus dicapai melalui pengertian dan kasih sayang.
Beberapa ayat dalam Al-Quran mengajarkan bahwa Islam yang mencakup seluruh aspek kehidupan, menghendaki adanya versi dakwah yang luas cakupannya, antara lain:
1.      Dakwah harus memecahkan kebutuhan mendasar orang akan jaminan kesejahteraan, karena hal itu sesuai dengan norma-norma keadilan sosial dan kerjasama persaudaraan.
2.      Dakwah harus ditujukan untuk menghidupkan kembali semangat Islam melalui pendidikan yang layak yang menjadikan setiap Muslim duta yang potensial bagi Islam.
3.      Dakwah harus memberi tuntunan bagi umat manusia, menawarkan makna bagi hidup, memajukan solidaritas manusia dan mendorong perubahan sosial.
4.      Dakwah harus dilakukan dalam semangat kebersamaan dan dengan cara bersama-sama, ini yang paling penting.
      Hal pertama yang harus kita sikapi ketika akan berdakwah di masyarakat mahasiswa luas adalah menjauhkan diri dari ekstremisme. Karena ekstremisme (qulluw) secara empatik membahayakan posisi Islam itu sendiri, atau bahkan boleh dibilang bertentangan. Indikasi pertama ekstremisme adalah fanatisme dan sikap tidak toleran terhadap cara beragama mahasiswa lain. Ekstremisme tampak pada mahasiswa yang menolak untuk mengubah pendapatnya dan berpegang teguh pada prasangka serta kekakuan. Keadaan ini terkadang diperparah dengan statement keras yang mengembangkan kecenderungan untuk menuduh orang lain sebagai bid’ah kufur dan sesat. Boleh jadi keberagaman cara beragama yang dilakukan mahasiwa lain disebabkan karena mereka belum paham, mungkin juga mereka sudah paham namun memiliki mazhab atau prinsip yang berbeda. Disini kita harus bisa menyikapinya dengan cara yang terbuka dan fleksibel, komunikasikan dengan cara yang baik.
      Mengutip salah satu kata-kata Abu Ishaq Al-Syatibi di salah satu bukunya Al-I’tisam,”Kurangnya pengetahuan agama dan kesombongan adalah akar-akar bid’ah serta perpecahan umat, dan pada akhirnya dapat menggiring ke arah perselisihan internal dan perpecahan perlahan-lahan.” Untuk mencegah hal-hal seperti itu, dan untuk menanamkan keseimbangan dalam beragama, penerimaan dan toleransi dalam umat Islam, hal utama yang diperlukan adalah kefektifan dakwah kepada kaum Muslimin sendiri. Karena bagaimana mungkin bisa kita mengajak orang lain untuk mengikuti ideal-ideal Islam seperti tasammuh (toleransi), i’tidal (moderasi) dan ‘adl (keadilan), jika kita sendiri sebagai Muslim tak bisa melakukannya secarah holistik dalam hubungan internal kita.
      Nomor dua yang perlu kita bicarakan ketika berdakwah adalah bagaimana kita bisa berkomunikasi dan berbicara sesuai bahasa kaum yang sedang kita dakwahi, perintah itu jelas sekali tertuang pada Al-Quran. Makna tekstual “sesuai bahasa kaum” disini amatlah luas, disini kita harus bisa paham siapa yang kita ajak bicara, bagaimana karakternya, bagaimana pola pikirnya, serta berbagai hal-hal lain yang kiranya bisa memberikan kita jawaban dan cara agar kita bisa sefrekuensi dengan lawan bicara kita. Karena dakwah yang efektif membutuhkan pendekatan yang berubah-ubah dan metodologi dakwah yang sesuai dengan objek dakwah itu sendiri.
      Memahami arus mendasar pemikiran mahasiswa yang cenderung idealis merupakan modal awal dalam mengkomunikasikan pesan-pesan Islam. Sering kali kurangnya atau tidak memadainya informasi tentang penerima dakwah membuat hasil kerja dakwah masih amat sangat jauh dari kata memuaskan. Itulah sebabnya kita disini harus biasa menyikapi dan tetap menghargai berbagai macam pola pikir tiap individu mahasiswa lain.
      Inilah kiranya beberapa point penting yang bisa saya sampaikan, semoga bisa menjadi titik terang perjalanan dakwah kampus yang kita emban saat ini. Sikap terbuka dan toleran adalah hal mendasar dari semua point-point besar disini. Terus semangat untuk berdakwah dan sajikan perubahan besar untuk diri kita sendiri dan orang-orang disekitar kita. Allahuakbar!!! Hidup Mahasiswa!!!

0 komentar:

Poskan Komentar