Rabu, 20 Maret 2013

Hastabrata : Hendaknya Pemimpin Bangsa Memahaminya


"dene wajibe nata, berbudi bawa leksana"
(sedangkan kewajiban seorang raja, memiliki akhlak yang disebut berbudi bawa leksana)
Sebagai seorang Top Level Manager, tak jarang ditemui kejadian yang membutuhkan perhatian khusus dan membingungkan. Begitu pula seorang pemimpin dalam sebuah organisasi yang selalu dituntut untuk bersikap bijak dan adil dalam menghadapi berbagai permasalahan. Jika pemimpin itu tak punya pegangan yang kuat, dia bersama organisasi yang dipimpinnya cepat atau lambat pasti akan menemui kehancuran. Oleh karena itu, hampir semua pemimpin berbondong-bondong mencari teori kepemimpinan yang paling baik dan tepat untuk diterapkan.


Sampai saat ini, banyak teori kepemimpinan yang telah bermunculan dan berkembang. Akan tetapi, disini penulis ingin sedikit mengupas salah satu teori kepemimpinan jawa kuna yang begitu termahsyur. Teori tersebut bernama HASTABRATA. Banyak spekulasi yang muncul mengenai siapa penggagas dari teori ini. Ada yang menyebut berasal dari budaya India kuno, ada juga yang menganggap bahwa teori ini berkembang saat Raja Airlangga memimpin tanah jawa.
Mungkin dikalangan orang jawa teori ini sering didengar saat pagelaran WAYANG KULIT Prabu Rama memberi nasehat kepada Raden Wibisana ataupun Prabu Kresna memberikan petuahnya kepada Raden Arjuna. Disini terlihat adanya satu keunikan, bahwasanya Prabu Rama dan Prabu Kresna itu sendiri digadang-gadang sebagai jelmaan Dewa Wisnu, dewa penjaga alam semesta. Mungkin leluhur kita ingin menyampaikan bahwa teori Hastabrata ini jika diamalkan secara tepat dapat menjadi sebuah pegangan untuk menjaga kelestarian dunia. Akan tetapi, apakah teori tersebut sudah diamalkan oleh para pemimpin bangsa?
Secara etimologis, “Hasta” artinya delapan, sedangkan “Brata” artinya langkah. Secara terminologis berarti delapan langkah yang harus dimiliki seorang pemimpin dalam mengemban misi kepemimpinannya. Langkah-langkah tersebut mencontoh delapan watak dari benda-benda di alam yakni Bumi, Matahari, Bulan. Bintang, Api, Angin, laut, dan Air.
Bumi, wataknya adalah ajeg. Sifatnya yang tegas, konstan, konsisten, dan apa adanya. Bumi menawarkan kesejahteraan bagi seluruh mahkluk hidup yang ada di atasnya. Tidak pandang bulu, tidak pilih kasih, dan tidak membeda-bedakan. 
Matahari selalu memberi penerangan (di kala siang), kehangatan, serta energi yang merata di seluruh pelosok bumi. Energi dari cahaya matahari juga merupakan sumber energi dari seluruh kehidupan di muka bumi. Pemimpin juga harus memberi semangat, membangkitkan motivasi dan memberi kemanfaatan pengetahuan bagi orang-orang yang dipimpinnya. 
Bulan mungkin lebih berguna daripada matahari. Karena dibandingkan matahari, bulan memberi penerangan saat gelap dengan cahaya yang sejuk dan tidak menyilaukan. Pemimpin yang berwatak bulan memberi kesempatan di kala gelap, memberi kehangatan di kala susah, memberi solusi saat masalah dan menjadi penengah di tengah konflik. 
Bintang adalah penunjuk arah yang indah. Seorang pemimpin harus berwatak bintang dalam artian harus mampu menjadi panutan dan memberi petunjuk bagi orang yang dipimpinnya. Pendirian yang teguh karena tidak pernah berpindah bisa menjadi pedoman arah dalam melangkah. 
Api bersifat membakar. Artinya seorang pemimpin harus mampu membakar jika diperlukan. Jika terdapat resiko yang mungkin bisa merusak organisasi, kemampuan untuk merusak dan menghancurkan resiko tersebut sangat membantu untuk kelangsungan oraganisasi. 
Angin adalah udara yang bergerak. Maksudnya kalo udara itu ada di mana saja. Dan angin itu ringan bergerak ke mana aja. Jadi pemimpin itu, meskipun mungkin kehadiran seorang pemimpin tidak disadari, namun ada dimanapun dia dibutuhkan. Pemimpin juga tak pernah lelah bergerak dalam mengawasi orang yang dipimpinnya. Memastikan baik-baik saja dan tidak hanya mengandalkan laporan yang bisa saja direkayasa. 
Laut atau samudra yang lapang, luas, menjadi muara dari banyak aliran sungai. Artinya seorang pemimpin mesti bersifat lapang dada dalam menerima banyak masalah dari anak buah. Menyikapi keanekaragaman anak buah sebagai hal yang wajar dan menanggapi dengan kacamata dan hati yang bersih. 
Air mengalir sampai jauh dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Meskipun wadahnya berbeda-beda, air selalu mempunyai permukaan yang datar. Artinya, pemimpin harus berwatak air yang berprinsip keadilan dan sama rata, kesamaan derajat dan kedudukan. Selain itu, sifat dasar air adalah menyucikan. Pemimpn harus bersih dan mampu membersihkan diri dan lingkungannya dari hal yang kotor dan mengotori.
Semoga pembaca yang budiman tidak hanya membaca tapi juga memahami salah satu ajaran luhur dari leluhur kita ini. Karena pada dasarnya kita semua adalah pemimpin. Minimalnya tubuh ini adalah pemimpin bagi jutaan sel-sel yang terorganisasi rapi di dalam tubuh kita. Supaya pada akhirnya bisa tercipta sebuah keharmonisan hidup, seperti keharmonisan di alam.

dene wajibe  ksatriatama hanetepi kasungguhanira, nderek hamemayu hayuning bawana
(sedangkan kewajiban seorang ksatria menunaikan kesungguhannya untuk ikut menjaga kelestarian bumi)


0 komentar:

Posting Komentar