Kamis, 15 Agustus 2013

Cara Mencintai dan Membenci Yang Benar

      Bicara masalah fakta dalam hidup kita akan banyak bicara tentang bagaimana logika bermain dan bertindak, tapi logika akan berjalan dengan kawan seperjuangannya dalam membuka pola pemikiran kita untuk bersikap di dunia nyata. Logika tak akan pernah bisa hidup tanpa kawan sejatinya, yakni perasaan. Logika tanpa perasaan bak manusia yang mentransformasikan dirinya sebagai robot, dan perasaan tanpa logika hanya bak hewan bernaluri tanpa berakal. Mereka bak koin logam bermuka dua, bergandengan, saling menindih, saling bertukar dalam saat-saat yang butuh penyesuaian. Terkadang kita harus tau kapan berlogika dan kapan berperasaan, namun logika adalah kumpulan mayoritas yang objektifitasnya berpengaruh padu pada pembentukan akal, beda dengan perasaan yang siatnya subjektif dan unstable jika dibandingkan logika. Tak heran dengan sifatnya subjektif dan unstable ini acap kali perasaan menggiring kita dalam jurang permasalahan, permasalahan dengan diri sendiri tentunya, atau mungkin berimbas ke orang lain pula. Kali ini saya akan sedikit berbicara tentang manajemen perasaan.
      Kutub bumi ini telah dibagi oleh Sang Prima Causa akan selalu bersudut pandang dalam dua hal, utara-selatan, kaya-miskin, baik-buruk, panjang-pendek, positif-negatif, dan berbaga macam lainnya. Namun bicara masalah perspektif perasaan kita akan banyak membahas masalah cinta-benci. Cinta bermanifestasi kepada kegiatan yang positif, jika dilakukan dengan benar, akan menumbuhkan suatu gairah hidup yang lebih baik. Berbeda dengan saudara jauhnya, atau bahkan mereka tak bersaudara, hanya hasil dikotomi perasaan saja. Benci adalah salah satu bentuk energi negatif yang akan berpenghujung dengan hal-hal  berpangkal buruk, pendapat awam saya berkata demikian.

Lalu bagaimana cara mencintai dan membenci yang benar? Apakah membenci itu boleh padahal itu buruk? Apakah mencintai selamanya akan mengarah pada hal positif?

Mencintai dan membenci karena Allah
“Tali iman yang paling kuat adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.” (HR. At-Tirmidzi).
“Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka sungguh telah sempurna Imannya.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).
      Diantara hadits yang semakna dengan hadits di atas, adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Mu’adz, bahwasanya dia bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang iman yang paling utama, maka beliau bersabda: “iman yang paling utama adalah engkau mencintai karena Allah dan membenci karena Allah, engkau pekerjakan lisanmu dalam berzikir kepada Allah”. Mereka lantas bertanya : kemudian apa lagi wahai Rasulullah! , beliau menjawab: “engkau mencintai suatu kebaikan untuk manusia sebagaimana engkau mencintai kebaikan itu untuk dirimu sendiri dan engkau benci (sesuatu yang buruk terjadi) terhadapnya sebagaimana engkau membenci hal itu terjadi terhadap dirimu, dan engkau berkata dengan perkataan yang baik atau engkau diam”.
      Dari hadits di atas kita bisa mengetahui bahwa kita harus memberikan kecintaan dan kesetiaan kita hanya kepada Allah semata. Kita harus mencintai terhadap sesuatu yang dicintai Allah, membenci terhadap segala yang dibenci Allah, ridho kepada apa yang diridhoi Allah, tidak ridho kepada yang tidak diridhoi Allah, memerintahkan kepada apa yang diperintahkan Allah, mencegah segala yang dicegah Allah, memberi kepada orang yang Allah cintai untuk memberikan dan tidak memberikan kepada orang yang Allah tidak suka jika ia diberi.
      Dalam pengertian menurut syariat, dimaksud dengan al-hubbu fillah (mencintai karena Allah) adalah mencurahkan kasih sayang dan kecintaan kepada orang-orang yang beriman dan taat kepada Allah ta’ala karena keimanan dan ketaatan yang mereka lakukan.Sedangkan yang dimaksud dengan al-bughdu fillah (benci karena Allah) adalah mencurahkan ketidaksukaan dan kebencian kepada orang-orang yang mempersekutukanNya dan kepada orang-orang yang keluar dari ketaatan kepadaNya dikarenakan mereka telah melakukan perbuatan yang mendatangkan kemarahan dan kebencian Allah, meskipun mereka itu adalah orang-orang yang dekat hubungan dengan kita.
      Sama dengan kasus ketika kita jatuh cinta pada seseorang, maka jatuh cintalah karena Allah, jatuh cintalah kepada orang yang senantiasa mendekatkan kita pada Allah, Jatuh cintalah pada orang yang akan membuat Allah semakin cinta kepada pribadi kita. Kalaupun ternyata jatuh cinta yang kita lakukan hanya semakin menghinakan diri kita, menjauhkan diri kita dari Allah, atau bahkan membuat cinta kita untuk Allah semakin berkurang maka cinta yang tak berdasar kepada Allah itu harus kita akhirkan. Sebesar apapun cinta itu dihadapan manusia, Allah tak akan pernah ridho jika cinta itu tidak berlandaskan cinta pada-Nya. Begitupun kita membenci seseorang, jangan sampai kita membenci orang yang salah. Jangan pernah membenci orang karena sifatnya, karena bisa jadi ia dekat dengan Allah meski kita tak suka dengan siatnya. Yang diperbolehkan untuk kita benci adalah orang dengan siat yang tak disukai Allah, bukan yang tidak kita sukai karena itu hanya berlandaskan perasaan kita. Ketika kita membenci seseorang karena jelas Allah membencinya, maka berarti cinta kita telah berdasar pada-Nya.

Mencintai dan membenci sekadarnya
      Nah setelah kita belajar untuk mencintai dan membenci karena Allah, poin keduanya adalah bagaimana kita mencintai dan membenci sekadarnya. Maksud sekadarnya disini adalah dengan cara yang biasa saja, tak boleh kurang juga tak boleh lebih. Karena sesuatu yang tak sesuai kadarnya ahanya akan menimbulkan permasalahan.
      Dari Abu Hurairah: Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Cintailah kekasihmu secukupnya saja, jangan sampai suatu hari ia menjadi musuhmu, dan bencilah musuhmu secukupnya saja, jangan sampai suatu hari ia menjadi kekasihmu" . (HR. At-Tirmidzi)
Dari hadits diatas kita bisa belajar cara mencintai dan membenci yang sesuai kadarnya, pun Rasulullah telah memberikan tuntunan pula untuk kita. Ketika kita mencintai seseorang, tak layak jua andaikan kita mencurahkan semua perasaan untuk seseorang itu, mungkin suatu saat ada saat-saat dimana orang itu mengecewakan kita dan justru perasaan kita bisa membuncah menjadi benci yang luar biasa. Jangan pernah mencintai seseorang dengan seluruh perasaan kita, apalagi seseorang yang belum haknya untuk kita cinta, risiko untuk kecewa pasti akan jauh lebih besar. Justru dengan perasaan cinta yang ala kadarnya terkadang kita lebih bisa memaknai betapa indahnya memiliki perasaan cinta tersebut.
      Begitupun ketika kita membenci musuh kita, juga harus dengan kadar yang biasa saja, jangan membencinya terlalu berlebihan. Sama ketika dahulu Umar masih bercumbu dengan kekafiran yang melekati dirinya, siapa yang tak kenal ia sebagai salah satu dari musuh besar Islam yang luar biasa kemampuannya. Tapi sekalipun ia adalah musuh Islam yang memiliki kekuatan mengerikan, Rasulullah tak pernah membencinya dengan berlebihan, Belia membenci Umar karena kekafirannya terhadap Allah, dan rasa benci itu hanya sekadarnya. Mungkin akan beda cerita apabila Rasulullah membenci Umar dengan kadar yang luar biasa bencinya, bisa jadi Umar tak akan pernah diterima untuk masuk Islam oleh beliau. Tapi begitulah Rasulullah sebagai manusia dengan kemampuan manajemen perasaan yang luar biasa. Ketika Umar datang padanya dan memohonkan dirinya untuk berislam, Rasulullah menyambut dengan amat sangat ramah sekali, bahkan dengan senyum seakan Umar telah dipersaudarakan dengan Islam sejak lahir. Subhanallah sekali bukan kalau bicara tentang perasaan.
      Jadi ketika seseorang bisa mengekang perasaannya,mengontrol pikirannya,dan ketika dalam setiap masalah ia memperlakukan sesuai dengan kadar kebutuhannya maka ia akan melaju selangkah menuju kearifan dan pemahaman yang hakiki.


Kesimpulan yang dapat kita tarik dari diskusi kita diatas tadi yakni, kita diperbolehkan mencintai dan membenci seseorang, tapi jangan lupa bahwa rasa cinta dan benci itu bersyarat. Bersyarat hanya karena Allah dan bersyarat hanya boleh dilakukan sesuai kadarnya.

1 komentar: